Skip to main content

Kura – Kura Moncong Babi di Selatan Papua

Petugas Unit Pelaksanaan Teknis Balai Besar Karantina Ikan memperlihatkan barang bukti penyelundupan kura-kura Moncong Babi asal Papua saat menggelar barang bukti dan konfrensi pers Penggalan Pengeluaran Ekspor Komoditi Kura-Kura Moncong Babi, Lobster dan Kepiting Bertelur di Kementerian Kelautan Dan Perikanan, Gambir, Jakarta,Senin (19/1/2015). (ANTARA FOTO/Teresia May)

Jayapura (ANTARA News) – Dinas Kehutanan Provinsi Papua menyatakan populasi terbesar habitat asli kura-kura moncong babi tersebar di bagian selatan “Bumi Cenderawasih” itu, yaitu Kabupaten Asmat, Mappi, dan Merauke.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Jan Jap Ormuseray di Jayapura, Jumat, mengatakan satwa langka yang dilindungi tersebut belakangan sering diselundupkan, mengingat tingginya permintaan pasar luar negeri.

“Untuk itu, kami terus mendorong kura-kura moncong babi ini agar menjadi satwa buru dalam peraturan menteri yang kini tengah dibahas regulasinya,” katanya.

Jan menjelaskan dengan diterbitkannya peraturan menteri mengenai satwa buru di mana kura-kura moncong babi masuk di dalamnya, maka hewan ini dapat diternakan dan dikembangbiakan untuk kemudian dikomersialkan.

“Dengan ditetapkan sebagai satwa buru, maka kami dapat mempelopori dibentuknya kelompok atau koperasi masyarakat adat untuk memanfaatkan kura-kura moncong baik agar memberikan pendapatan secara legal,” ujarnya.

Dia menuturkan selain dapat memberikan pemasukan dan menyejahterakan masyarakat, bisa juga meningkatkan pendapatan asli daerah di tempat habitat aslinya.

“Hal ini juga dapat mengurangi kasus-kasus penyelundupan kura-kura moncong babi ke luar dari Papua seperti yang terjadi di awal 2016, di mana pihak Bandara Moses Kilangin Timika bersama instansi terkait berhasil menggagalkan upaya pengirimannya secara ilegal,” katanya.

Meskipun upaya penyelundupan 6.967 ekor kura-kura moncong babi berhasil digagalkan dan akhirnya dikembalikan lagi ke habitat aslinya di Kabupaten Asmat, katanya, hal itu harus menjadi perhatian khusus agar tidak terulang lagi pada masa mendatang.

Sumber: www.antaranews.com

TSE Group dan IPB University Jalin Konservasi Spesies Endemik Papua

Foto : Peneliti Fakultas Kehutanan IPB University meneliti kura-kura moncong babi (Carrettochelys insculpta) dewasa di Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan

BOVEN DIGOEL – Kelompok Tunas Sawa Erma (TSE) dan IPB University bergandengan tangan dalam aksi pelestarian kura-kura moncong babi (Carrettochelys insculpta) di Sungai Kao dan Muyu di Kabupaten Boven Digoel, Papua, Sabtu (16/12). Satwa air tawar ini merupakan satwa endemik yang hanya ditemukan di kabupaten Papua Selatan seperti Asmat, Mappi, Merauke, dan Boven Digoel.

Proyek bersama ini diawali dengan penandatanganan kesepakatan dengan peneliti IPB University mengenai kesepakatan konservasi selama lima tahun yang dimulai pada tahun 2022 dan akan berakhir pada tahun 2026.

Peran TSE Group dalam proyek ini adalah menyediakan segala kebutuhan peneliti, seperti peralatan konservasi, akomodasi, dan transportasi selama penelitian berlangsung.

“Kura-kura moncong babi merupakan satwa endemik Papua. Hasil pengamatan kami selama ini telurnya dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar, sehingga kami melakukan kajian ekologi terhadap kura-kura dewasa untuk melihat jangkauan pergerakannya. Tentu saja, dukungan TSE Group sangat membantu proses penelitian dan konservasi,” kata Mirza Dikari Kusrini, ilmuwan lingkungan, reptil, dan amfibi dari IPB.

Carettochelys insculpta merupakan satwa dilindungi berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 327/Kpts/Um/1978 dan diperkuat dengan Peraturan Pemerintah 7/1999 serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 (tentang flora dan fauna yang dilindungi). Statusnya tersebut menuntut adanya upaya pencegahan kepunahan.

Foto : Bagian dari penelitian di Sungai Kao, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan

Sebagai perusahaan yang berkantor pusat di Boven Digoel, TSE Group menaruh perhatian khusus pada upaya perlindungan keanekaragaman hayati dan lingkungan di sekitar wilayah operasionalnya. Hal ini mendorong perusahaan untuk mengambil bagian dalam berbagai inisiatif yang melindungi spesies endemik Papua Selatan.

Tindakan ini juga sejalan dengan komitmen TSE Group sebagai perusahaan perkebunan kelapa sawit di Papua untuk mempraktikkan tata kelola kelapa sawit yang berkelanjutan dan melakukan berbagai inovasi untuk melindungi dan memelihara keanekaragaman hayati di Negeri Cendrawasih tersebut.

Sumber: tsegroup.co.id

Melestarikan kura-kura moncong babi yang agung – Sebuah kisah konservasi yang luar biasa

Bergabunglah dengan Bali Safari Park dan Pusat Konservasi Sumber Daya Alam Papua dalam misi untuk melindungi dan melestarikan kura-kura hidung babi yang agung (Carettochelys insculpta). Saksikan perjalanan luar biasa mereka dari Bali ke Papua, dipandu oleh komitmen Bali Safari Park yang teguh. Upaya yang menginspirasi ini menunjukkan pentingnya warisan budaya, pelestarian keanekaragaman hayati, dan kepemimpinan Bali Safari Park dalam konservasi.

Saksikan Pengembaraan Kura-kura moncong babi: Pada tahun 2015, Bali Safari Park menjadi rumah bagi 2.341 kura-kura moncong babi yang diselamatkan oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam Bali. Kura-kura kecil yang terluka ini menemukan perlindungan di Bali Safari Park, tempat tim yang berdedikasi merawat mereka. Setelah mengatasi tantangan, kura-kura tersebut tumbuh hingga ukuran rata-rata 18-30 cm. Pada tahun 2022, populasi mereka mencapai sekitar 900 ekor.

 

Sumber: awaramusafir.com

Kura-Kura Moncong Babi, Hewan Endemik Papua yang Banyak Diburu untuk Dijual ke Luar Negeri

Kura-kura moncong babi, hewan endemik Papua yang terancam punah karena banyak diselundupkan ke luar negeri. (Foto : Reptil Indonesia)

JAKARTA, iNews.id – Labi-labi moncong babi (Carettochelys insculpta) merupakan ikan dengan jenis kura-kura berpunggung (cangkang) lunak, anggota suku Trionychidae. Hewan reptil ini sering juga disebut dengan nama kura-kura.

Kura-kura moncong babi merupakan hewan endemik Papua yang populasinya di alam bebas sangat terancam. Selain diburu untuk dikonsumsi, hewan peliharaan populer ini sering diselundupkan ke luar negeri (Cina dan Taiwan) untuk dikonsumsi sebagai obat.

Secara umum kura-kura moncong babi hidup di sejumlah sungai di daerah bagian selatan Papua. Populasi terbesarnya di Kabupaten Asmat, Mappi dan Merauke.

Kura-kura moncong babi merupakan satwa liar endemik Papua yang dilindungi Undang-Undang berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Sebagai satwa dilindung, maka penyelundup reptil ini terancam penjara.

Saat ini, Taman Nasional Gunung Lorentz menjadi tempat perlindungan terakhirnya. Sebab satwa langka tersebut belakangan sering diselundupkan, mengingat tingginya permintaan pasar luar negeri.

Karakteristik kura-kura moncong babi

Kura-kura moncong babi tidak seperti spesies kura-kura air tawar lainnya yang memiliki kaki sebagai alat gerak. Pada reptil ini, kaki labi-labi berfungsi sebagai sirip, menyerupai penyu.

Hidungnya terlihat seperti babi yang memiliki lubang hidung di ujung moncong berdaging. Inilah mengapa namanya disebut kura kura hidung babi (pig-nosed turtle).

Tempurungnya biasanya berwarna abu-abu dengan tekstur kasar. Sementara plastron berwarna krem. Untuk membedakan jantan dan betina dapat dilihat dari bentuk ekornya yang lebih panjang dan lebih sempit. Kura-kura moncong babi bisa tumbuh hingga sekitar 70 cm dengan berat lebih dari 20 kg.

Satwa ini merupakan jenis omnivora yang berarti memakan tumbuhan dan hewan. Namun kura-kura ini lebih menyukai tanaman dan buah daripada binatang di alam liar.

 

Sumber: papua.inews.id

Kura-Kura Moncong Babi yang Diamankan BKSDA Sumbar akan dikirim ke Timika Papua

Kura-Kura Moncong Babi Diamankan BKSDA Sumbar akan dikirim ke Timika Papua

Infosumbar.net – Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Sumatera Barat telah mengamankan Kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) dan Kura-kura baning coklat (Manouria emys), satwa tersebut akan dikembalikan ke Timika, Kecamatan Mimika Baru, Kabupaten Mimika. Provinsi Papua, pada Jumat (27/5/2022).

Sebelumnya satwa tersebut sudah diamankan dari seorang terdakwa dengan inisial MIH yang merupakan warga kota Payakumbuh yang diamankan langsung oleh tim Wildlife Rescue unit (WRU) BKSDA Sumbar bekerjasama dengan Ditreskrimsus Polda Sumbar pada tanggal 7 Maret 2022.

Adapun barang bukti yang sudah diamankan diantaranya 472 ekor Kura-kura moncong babi dari Papua serta 6 ekor Kura-kura baning coklat. Kemudian untuk barang bukti 6 ekor baning coklat telah di lepasliarkan di Taman Hutan Raya (Tahura) Bung Hatta yang mana lokasi tersebut berbatasan langsung dengan Suaka Margasatwa Bukit Barisan

Kepala BKSDA Sumbar Ardi Andono mengatakan kasus perdagangan ilegal Kura-kura moncong babi dan Kura-kura baning coklat sudah masuk dalam proses persidangan di Pengadilan Tinggi Negeri Payakumbuh.

Dalam sidang itu para saksi juga meminta kepada hakim untuk memberikan izin agar kura-kura moncong babi yang masih hidup bisa dilepasliarkan untuk kembali ke habitatnya.

“Kita berharap agar dapat dikembalikan ke Papua tepatnya di Timika melalui BKSDA Papua,” kata Ardi Andono.

Ardi Andono juga menjelaskan bahwa pihaknya juga telah melakukan kerjasama Balai Karantina Ikan dan BKSDA Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta untuk proses pengurusan transit nantinya di Jakarta.

Ia juga berharap agar penyelesaian kasus tersebut berjalan dengan lancar, dan pelaku mendapatkan vonis maksimal dengan tujuan agar menimbulkan efek jera terhadap penjual dan seluruh jaringannya.

Diketahui sebelumnya pelaku dan satwa yang dilindungi itu sudah diamankan oleh BKSDA Sumatera Barat dengan Ditreskrimsus Polda Sumbar, pelaku dan barang bukti yang didapatkan sudah diamankan pada Senin (7/3/2022) sekitar pukul 22:00 WIB di Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat. (Ism02)

Sumber: www.infosumbar.net

Bagaimana Kura-kura Moncong Babi Bermula

Claire Parsley ’22 dan Sarah Mitch, mengulas proyek Claire di kelas zoologi.

Seni dan sains bersatu dalam proyek kelas zoologi untuk Claire Parsley ’22, yang menghasilkan buku bergambar cat airnya, “How the Pig-Nosed Turtle Came to Be.”

Pilihan zoologi baru, yang diajarkan oleh Sarah Mitch, menarik bagi Parsley sebagai siswa dengan banyak minat dan jalan yang tidak jelas untuk masa depan. “Saya suka belajar tentang segala hal, terutama hewan,” katanya.

“Bedah cumi-cumi, belalang, dan cacing menyenangkan bagi siswa yang tidak mudah merasa mual,” kata Parsley, yang tidak menganggap dirinya sendiri dalam “kategori yang tidak mudah merasa mual.” “Hampir setiap siswa di kelas menggunakan alat mereka untuk mengeluarkan organ tertentu.”

Parsley memilih untuk mengerjakan proyek terbaru tentang kura-kura moncong babi dalam bentuk buku cerita cat air karena “memungkinkan saya untuk membuat cerita konyol dan melatih kreativitas saya, yang sangat saya sukai.”

Dia belajar, katanya, bahwa kura-kura moncong babi tidak mengalami kesepian, hanya kekurangan sumber daya ketika mereka dipisahkan dari induknya saat lahir. “Saya memilih untuk menjadikan Morty si Kura-kura moncong Babi sebagai orang yang sarkastis dan sangat terbuka,” jelasnya. “Buku tersebut menceritakan kisah pertemuannya dengan seekor babi di darat untuk pertama kalinya dan krisis yang dialaminya setelah itu.”

Kelas tersebut dirancang untuk bersifat langsung dan berdasarkan pengalaman, kata Mitch. “Harapannya adalah para siswa dapat merasakan pembelajaran sebagai sesuatu yang menyenangkan, santai, dan alami.”

Jadwal blok yang terinspirasi COVID tahun ini — empat periode 75 menit per hari — memberikan “kemewahan” untuk membangun pengalaman lapangan mingguan bagi kelas yang terhubung dengan apa yang dipelajari kelompok tersebut di kelas, jelas Mitch.

Kelas yang terdiri dari 14 siswa di kelas 10 hingga 12 telah mengunjungi pertanian lokal untuk bertemu dengan para petani dan melihat kambing, babi, dan ayam; toko hewan peliharaan; Blue Ridge Community College untuk mempelajari tentang Program Teknisi Hewan; dan Silver Lake di Dayton, Va., untuk memancing.

Kunjungan lapangan yang akan datang akan membawa kelompok tersebut ke Harrisonburg-Rockingham SPCA untuk menjadi sukarelawan. Kelas tersebut akan diakhiri dengan “pandangan kritis” di Kebun Binatang Nasional di Washington, D.C.

“Sebagai seorang guru, saya merasa beruntung memiliki fleksibilitas untuk merancang mata kuliah pilihan yang dapat bersifat out of the box, dengan menitikberatkan pada pembelajaran yang menyenangkan,” kata Mitch. “Sangat menyenangkan untuk membangun komunitas kelas — dengan siswa yang memiliki minat yang beragam — dan melihat siswa menyelaminya secara mendalam.”

 

Sumber: easternmennonite.org (https://www.easternmennonite.org/2022/02/how-the-pig-nosed-turtle-came-to-be/).

Bertemu Funzo, Kura-kura Lokal yang Di-bully di Dunia Maya pada Hari Ulang Tahunnya

BALTIMORE (WJZ) — Funzo adalah kura-kura moncong babi yang tinggal di Pusat Perawatan dan Penyelamatan Hewan Akuarium Nasional. Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-28 pada hari Selasa, akuarium tersebut men-tweet gambar reptil yang menggemaskan dan tertutup itu kepada lebih dari 50.000 pengikutnya.

Dan kemudian komentar pun berdatangan.

MENJIJIKKAN

buang saja https://t.co/uuRH9V5Zz4

— Speview – bebas lemak (@ReviewerSpell) 5 Januari 2022

 

Itu trenggiling https://t.co/Sgl4XRTvb3

— NICK (@nickgrodo) 5 Januari 2022

 

Bahkan mantan wide receiver Ravens Torrey Smith ikut bergabung. Smith akhirnya menebus kesalahannya dengan berteriak ke akuarium.

https://x.com/NatlAquarium/status/1478450917477343232?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1478450917477343232%7Ctwgr%5E2861f4dc20a9e72a8e7b2622951f27ec74bec524%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fwww.papuaconservation.com%2Fmeet-funzo-the-local-turtle-who-was-cyberbullied-on-his-birthday%2F

Untungnya, Funzo tidak melihat cuitan tersebut. Yang ia rasakan hanyalah cinta yang ia dapatkan di pusat perawatan, tempat ia menjadi semacam selebritas, menurut akuarium tersebut.

Funzo telah bergabung dengan Akuarium Nasional sejak 2002 tetapi telah keluar dari habitat pameran yang ramai tersebut sejak 2011. Akuarium tersebut mengatakan bahwa ia lebih menyukai tempat yang lebih tenang – kolam renangnya di pusat perawatan.

Tur Pusat Perawatan dan Penyelamatan Hewan dimulai dengan anggota Akuarium Nasional pada tahun 2018, dan meskipun beberapa pengguna Twitter tidak begitu ramah, ia menjadi favorit para tamu yang mengunjungi fasilitas tersebut, kata akuarium tersebut.

Untuk setiap komentar negatif yang diterima Funzo – dan jumlahnya banyak – lahirlah beberapa penggemar berat. Tak lama kemudian, Funzo memiliki lusinan simpatisan, termasuk warga Baltimore.

https://x.com/DowntownBalt/status/1478838149438709761?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1478838149438709761%7Ctwgr%5E2861f4dc20a9e72a8e7b2622951f27ec74bec524%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fwww.papuaconservation.com%2Fmeet-funzo-the-local-turtle-who-was-cyberbullied-on-his-birthday%2F

https://x.com/BabeRuthMuseum/status/1478835101765144577?ref_src=twsrc%5Etfw%7Ctwcamp%5Etweetembed%7Ctwterm%5E1478835101765144577%7Ctwgr%5E2861f4dc20a9e72a8e7b2622951f27ec74bec524%7Ctwcon%5Es1_c10&ref_url=https%3A%2F%2Fwww.papuaconservation.com%2Fmeet-funzo-the-local-turtle-who-was-cyberbullied-on-his-birthday%2F

Menurut EDGE of Existence, sebuah program konservasi global, kura-kura moncong babi adalah “satu-satunya anggota yang masih hidup dari seluruh keluarganya, Carettochelyidae, dan hidup sendiri di cabang pohon kehidupan yang berusia sekitar 140 juta tahun.” Tidak seperti kura-kura air tawar lainnya, kura-kura seperti Funzo memiliki sirip dan cangkang kasar, belum lagi hidungnya yang seperti moncong. Menurut akuarium tersebut, kura-kura berhidung babi ditemukan di Australia utara, Irian Jaya, dan Nugini selatan. Jenis Funzo dulunya diyakini sangat langka tetapi ternyata umum di wilayahnya. Funzo adalah kura-kura yang sangat unik dengan garis keturunan yang bertingkat yang lebih suka mengurus urusannya di kolam renang daripada terlibat dengan para pengkritiknya secara daring. Baltimore beruntung memilikinya. Jadi, tolong bersikap baik padanya.

 

Sumber: cbsnews.com (https://www.cbsnews.com/baltimore/news/national-aquarium-turtle-funzo-baltimore-twitter/).

Fosil langka mengungkap Melbourne prasejarah pernah menjadi surga bagi kura-kura moncong babi tropis

Photo: Hany Mahmoud

Kura-kura hidung babi, kura-kura air tawar yang terancam punah yang berasal dari Northern Territory dan selatan New Guinea, memiliki keunikan dalam banyak hal.

Tidak seperti kebanyakan kura-kura air tawar, kura-kura ini hampir sepenuhnya beradaptasi dengan kehidupan di air. Ia memiliki sirip seperti dayung yang mirip dengan kura-kura laut, “hidung babi” seperti snorkel untuk membantunya bernapas saat terendam, dan telur yang hanya akan menetas saat terkena air di musim hujan.

Ia juga merupakan spesies terakhir yang masih hidup dari sekelompok kura-kura tropis yang disebut carettochelyids, yang pernah hidup di seluruh belahan bumi utara. Para ilmuwan mengira kura-kura hidung babi baru tiba di Australia dalam beberapa milenium terakhir, karena tidak ada fosil kura-kura hidung babi yang pernah ditemukan di sini – atau begitulah yang kami kira.

Fosil berusia lima juta tahun dari koleksi Museum Victoria kini telah sepenuhnya mengubah kisah ini. Ditemukan di Beaumaris, 20 km di tenggara Melbourne, fosil ini tidak teridentifikasi dalam koleksi Museum Melbourne selama hampir 100 tahun hingga tim kami menemukannya.

Kami mengidentifikasi fosil tersebut sebagai bagian kecil dari bagian depan cangkang kura-kura berhidung babi, seperti yang kami laporkan minggu ini di jurnal Papers in Palaeontology. Meskipun fosil tersebut hanya berupa fragmen, kami beruntung fosil tersebut berasal dari area cangkang yang sangat diagnostik.

Fosil kura-kura berhidung babi berusia lima juta tahun, dalam posisi hidup di cangkang kura-kura berhidung babi modern. Foto: Erich Fitzgerald

Fosil tersebut menunjukkan bahwa kura-kura carettochelyid telah hidup di Australia selama jutaan tahun. Namun, apa yang dilakukan kura-kura berhidung babi di Beaumaris lima juta tahun lalu, ribuan kilometer dari wilayah jelajah modern mereka?

Dulu, cuaca di Melbourne jauh lebih hangat dan basah daripada sekarang. Cuacanya lebih mirip dengan kondisi tropis tempat kura-kura ini hidup saat ini.

Faktanya, ini bukanlah spesies tropis prasejarah pertama yang ditemukan di sini – anjing laut biksu, yang saat ini hidup di Hawaii dan Mediterania, dan duyung juga pernah hidup di tempat yang sekarang disebut Beaumaris.

 

Sumber: lens.monash.edu

Kura-kura moncong babi langka dulunya disebut sebagai rumah Melbourne

Kura-kura berhidung babi hidup di Melbourne 5 juta tahun yang lalu. Kredit: Jaime Bran.

Kura-kura hidung babi ditemukan di ekosistem air tawar tropis di Australia utara dan Nugini, dan baru tiba di sini beberapa ribu tahun yang lalu.

Namun kini, para ilmuwan telah menemukan fosil kura-kura hidung babi berusia lima juta tahun di Melbourne, ribuan kilometer selatan dari rumah mereka yang biasa.

Penemuan ini diuraikan dalam sebuah penelitian yang dipimpin oleh para ahli biologi Universitas Monash, bekerja sama dengan Museum Victoria, yang diterbitkan hari ini di Papers in Palaeontology.

Kura-kura hidung babi terancam punah, dan merupakan satu-satunya yang selamat dari kelompok kura-kura tropis yang telah punah dari Belahan Bumi Utara.

Fosil yang disimpan di Museum Melbourne ditemukan di Beaumaris, pinggiran kota Melbourne di tepi teluk, 20 km dari CBD, dan sepenuhnya mengubah evolusi kura-kura hidung babi.

“Hampir seluruh sejarah evolusi kura-kura hidung babi terjadi di belahan bumi utara, dengan kemunculannya yang terbatas saat ini di tepi utara Australia,” kata penulis utama penelitian Dr James Rule, dari Sekolah Ilmu Biologi Universitas Monash.

“Penemuan fosil kura-kura hidung babi berusia lima juta tahun di Beaumaris mengubah gambaran ini sepenuhnya,” katanya.

Penemuan ini menunjukkan pola yang lebih luas dari kura-kura yang bermigrasi melintasi seluruh lautan di masa lampau untuk mencapai perairan tropis di Australia selatan.

“Spesimen fosil ini mengungkap sejarah evolusi kura-kura tropis yang sebelumnya tidak diketahui di Australia, dan menunjukkan bahwa kita masih harus banyak belajar tentang kura-kura hidung babi yang terancam punah,” kata Dr. Rule.

Lima juta tahun yang lalu, iklim di Melbourne jauh lebih hangat dan menjadi rumah bagi kura-kura yang hanya ditemukan di daerah tropis saat ini.

“Perubahan iklim dalam beberapa juta tahun terakhir menghilangkan habitat tropis ini, meninggalkan kura-kura hidung babi Australasia utara sebagai satu-satunya yang selamat,” kata Dr. Rule.

“Penemuan kami memberikan wawasan utama tentang perubahan iklim kuno yang membentuk distribusi spesies modern.”

Fosil ini adalah penemuan penting terbaru yang berasal dari situs fosil Beaumaris.

“Kami sangat beruntung di Melbourne karena memiliki fosil seperti itu di halaman belakang rumah kami sendiri,” kata Dr. Erich Fitzgerald, kurator senior paleontologi vertebrata di Museum Victoria dan salah satu penulis makalah tersebut.

“Fosil-fosil di Beaumaris masih memiliki banyak hal untuk diajarkan kepada kita tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan kita.”

 

Sumber: onash.edu

Ditemukan Fosil Kura-kura Hidung Babi Berusia 5 Juta Tahun yang Bisa Bertahan Hidup di Air Tawar dan Air Laut

(Foto: BIMA SAKTI/AFP via Getty Images) Seorang karyawan peternakan Kadoorie menggendong bayi kura-kura hidung babi di Hong Kong pada bulan Oktober 2011.

Fosil Berusia 5 Juta Tahun

Sebagaimana yang ditunjukkan dalam makalah yang diterbitkan dalam Papers in Palaeontology, fosil berusia lima juta tahun dari koleksi Museum Victoria kini telah sepenuhnya mengubah cerita ini. Terlebih lagi, koleksi museum tersebut telah ada selama hampir satu abad hingga para peneliti menemukannya.

Hasilnya, tim peneliti dapat mengidentifikasi fosil tersebut sebagai kumpulan kecil bagian depan cangkang kura-kura berhidung babi, sebagaimana dilaporkan dalam makalah tersebut. Meskipun fosil tersebut hanya berupa fragmen, penulis studi mengatakan bahwa mereka beruntung bahwa penemuan tersebut berasal dari lokasi cangkang yang sangat diagnostik.

Fosil tersebut menunjukkan bahwa selama jutaan tahun, kura-kura “carettochelyid” telah hidup di Australia. Meskipun, masih menjadi pertanyaan, apa yang dilakukan kura-kura berhidung babi, yang dijelaskan dalam situs Akuarium Nasional, di Beaumaris lima juta tahun yang lalu, atau ribuan kilometer dari tempat tinggal mereka saat ini.

Sebelumnya, cuaca di Melbourne jauh lebih hangat, belum lagi lebih basah daripada saat ini. Kondisi ini lebih mirip dengan kondisi tropis tempat kura-kura tersebut hidup saat ini.

Sebenarnya, ini bukanlah spesies tropis prasejarah pertama yang ditemukan di sini; anjing laut biksu, yang saat ini hidup di Mediterania dan Hawaii, dan duyung juga pernah hidup di tempat yang sekarang disebut ‘Beaumaris.”

Titik Panas Kura-kura Tropis

Jutaan tahun yang lalu, pesisir timur Australia merupakan titik panas kura-kura tropis. Lingkungan yang lebih hangat dan berair akan ideal untuk mendukung keragaman kura-kura yang lebih besar di masa lalu. Hal ini, menurut para peneliti dalam penelitian tersebut, terjadi pada “zaman modern yang nyata,” saat ini, negara tersebut hampir menjadi rumah bagi kura-kura berleher samping.

Pada dasarnya, kura-kura tropis harus menyeberangi ribuan kilometer lautan untuk sampai di sana. Meskipun demikian, tidak lazim bagi hewan kecil untuk menyeberangi laut dengan menumpang pada kumpulan tumbuhan.

Pertanyaan tentang “Di mana kura-kura itu sekarang?” dan “Mengapa kura-kura hidung babi saat ini merupakan spesies terakhir yang tersisa dari carettochelyids?” kini muncul.

Sama seperti saat ini, hewan-hewan sebelumnya terancam punah akibat perubahan iklim. Ketika iklim Australia berubah menjadi lebih dingin dan kering setelah zaman es, semua kura-kura tropis punah, kecuali kura-kura hidung babi di Nugini dan Teritori Utara.

Hal ini juga menunjukkan bahwa kura-kura hidung babi masa kini, yang sudah terancam, terancam oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. Kura-kura tersebut sangat sensitif terhadap lingkungan, dan jika tidak ada hujan, telurnya tidak dapat menetas.

Hal ini berlaku untuk hewan dan tumbuhan asli Australia. Pada spesies reptil seperti kura-kura dan buaya, jenis kelamin dapat diidentifikasi berdasarkan suhu saat telur dierami. Ini adalah faktor lain yang dapat membahayakan spesies tersebut akibat perubahan iklim.

Sumber: sciencetimes.com