Skip to main content

TSE Group Perkenalkan Keanekaragaman Hayati Kali Kao Lewat Video Dokumenter

Foto: Kura-kura moncong babi dan burung cendrawasih menjadi dua satwa endemik yang hidup di kawasan Kali Kao, Papua. Melalui dokumentasi video, TSE Group menyoroti pentingnya menjaga habitat alami satwa tersebut sebagai bagian dari upaya konservasi keanekaragaman hayati Papua.

BOVEN DIGOEL – Di tengah rimbunnya hutan Papua dan aliran sungai yang masih alami, berbagai spesies langka hidup berdampingan dengan alam. Sebagian di antaranya bahkan belum memiliki nama ilmiah dan masih menunggu untuk dipelajari lebih jauh oleh para peneliti.

Di perairan Papua, salah satu spesies yang menjadi perhatian adalah kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta), reptil unik yang diyakini telah bertahan lebih dari 100 juta tahun. Sementara di langit hutan tropisnya, cendrawasih kuning besar (Paradisaea apoda) menari dengan bulu keemasan yang khas, menjadikannya simbol keindahan alam Papua.

Kedua spesies tersebut hidup di kawasan Kali Kao, sebuah sungai di Papua yang menjadi bagian penting dari ekosistem hutan sekaligus sumber kehidupan bagi masyarakat setempat. Bagi banyak warga, Kali Kao bukan sekadar aliran air, tetapi nadi kehidupan yang menghubungkan manusia, hutan, dan satwa liar yang telah hidup berdampingan selama bertahun-tahun.

Melalui sebuah video dokumenter, Tunas Sawa Erma (TSE) Group menyoroti pentingnya menjaga habitat satwa endemik Papua yang memiliki nilai ekologis tinggi. Video tersebut menampilkan kisah Kali Kao sebagai rumah bagi berbagai spesies, termasuk kura-kura moncong babi yang hidup di sungai-sungai Papua serta cendrawasih kuning besar yang menghuni kanopi hutan tropis.

Dokumentasi ini juga menjadi upaya untuk meningkatkan perhatian publik terhadap konservasi satwa endemik dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah Papua.

Video tentang kisah Kali Kao tersedia dalam tiga bahasa agar dapat menjangkau audiens yang lebih luas.

Melalui dokumentasi ini, TSE Group berharap semakin banyak pihak yang mengenal dan peduli terhadap kekayaan biodiversitas Papua serta pentingnya menjaga habitat alami bagi generasi mendatang. (PR)

IPB–TSE Ungkap Hasil Riset Konservasi Cenderawasih dan Kura-kura Moncong Babi di Papua Selatan

Seminar Lokakarya Konservasi Kehidupan Liar TSE Group dihadiri berbagai tokoh, mulai dari tim peneliti burung dan kura-kura moncong babi dari IPB University, Gubernur Papua Selatan Apollo Safanpo, Ketua MRP-PPS Papua Selatan Damianus Katayu, perwakilan BRIN, Otoritas Manajemen, akademisi hingga GAPKI

BOGOR — Penelitian jangka panjang selama empat tahun yang dilakukan IPB University bersama Tunas Sawa Erma (TSE) Group menunjukkan bahwa pengelolaan hutan produksi dan lanskap sungai secara bertanggung jawab masih mampu menjaga keberlangsungan habitat Cenderawasih Kuning-Besar dan Kura-kura Moncong Babi di Papua, meski dihadapkan pada tantangan perubahan iklim.

Temuan tersebut terungkap dari Seminar dan Lokakarya Konservasi Hidupan Liar bertema Melindungi Ikon Papua: Pemantauan Jangka Panjang Kura-kura Moncong Babi dan Cenderawasih yang digelar di Bogor, Jumat (6/2/2026). Kegiatan ini sekaligus memaparkan hasil kerja sama riset IPB University dan TSE Group yang telah berlangsung sejak 2022.

Dalam konteks konservasi burung endemik, penelitian terhadap Cenderawasih Kuning-Besar menunjukkan spesies tersebut masih ditemukan secara konsisten di areal hutan produksi yang dikelola dengan sistem tebang pilih. Selama periode penelitian, lebih dari 100 individu teridentifikasi di dua konsesi hutan, dengan sebagian wilayah dinilai memiliki tingkat kesesuaian habitat yang tinggi.

Selain mencatat keberadaan populasi, tim peneliti juga mendokumentasikan perilaku kawin (lekking) serta mengidentifikasi pohon pakan dan pohon lek yang menjadi elemen kunci dalam menjaga kelangsungan populasi Cenderawasih Kuning-Besar.

Peneliti Cenderawasih IPB University, Prof. Dr. Ani Mardiastuti, mengatakan hasil riset ini menegaskan bahwa pengelolaan hutan produksi yang mempertahankan area bernilai konservasi tinggi (HCV) dan menerapkan tebang pilih berkelanjutan dapat berkontribusi nyata terhadap konservasi burung endemik Papua.

“Area hutan produksi yang dikelola secara bertanggung jawab tetap mampu mendukung keberadaan Cenderawasih, bahkan berpotensi dikembangkan untuk kegiatan ekowisata berbasis pengamatan burung,” ujarnya.

Sementara itu, tantangan berbeda muncul pada spesies perairan tawar. Penelitian terhadap Kura-kura Moncong Babi menunjukkan bahwa perubahan iklim menjadi faktor yang semakin memengaruhi keberhasilan reproduksi satwa tersebut.

Curah hujan ekstrem dan banjir di kawasan Sungai Kao tercatat menyebabkan kegagalan peneluran pada beberapa periode pengamatan. Kondisi ini menegaskan bahwa upaya konservasi tidak hanya bergantung pada perlindungan habitat, tetapi juga pada kemampuan adaptasi terhadap dinamika iklim.

Prof. Dr. Mirza D. Kusrini, Peneliti Kura-kura Moncong Babi IPB University menekankan pentingnya pemantauan jangka panjang untuk memahami dampak anomali cuaca terhadap siklus hidup satwa.

Prof.Dr. Mirza D. Kusrini, Prof.Dr Ani Mardiastuti dan Dr. Yeni A. Mulyani menyampaikan materi terkait penelitian burung, herpetofauna serta kura-kura moncong babi dari penelitian jangka panjang yang dilakukan oleh tim peneliti Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University dan TSE Group

“Pemantauan jangka panjang sangat penting untuk memahami dampak perubahan iklim terhadap keberhasilan peneluran. Kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci agar upaya konservasi dapat berjalan berkelanjutan,” katanya.

Dari sisi pelaku usaha, hasil riset ini dipandang sebagai dasar penguatan praktik pengelolaan yang bertanggung jawab. Direktur TSE Group Wicklief F. Leunufna menegaskan bahwa pelestarian lingkungan dan perlindungan satwa liar merupakan bagian dari komitmen perusahaan di wilayah operasional.

“Melalui kerja sama riset dengan IPB University, kami berupaya memastikan kegiatan operasional berjalan sejalan dengan upaya konservasi berbasis ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Lebih jauh, seminar dan lokakarya ini tidak hanya menjadi forum pemaparan hasil riset, tetapi juga ruang diskusi lintas sektor. Forum tersebut mengidentifikasi peluang dan tantangan pemantauan jangka panjang serta merumuskan rekomendasi teknis dan kebijakan berbasis sains untuk pengelolaan spesies dilindungi di Papua.

Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Dr. Dodik Ridho Nurrochmat, berharap hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam perumusan kebijakan daerah.

Seminar ini diselenggarakan sebagai bagian dari laporan pertanggungjawaban kegiatan penelitian jangka panjang yang dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University dan TSE Group

“Kami berharap forum ini tidak hanya menjadi ruang berbagi informasi, tetapi juga wadah strategis untuk memperoleh arahan dan masukan pemangku kepentingan agar penelitian selaras dengan kebutuhan kebijakan yang solutif,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Papua Selatan Apollo Safanpo menilai penelitian berbasis data ilmiah penting sebagai dasar pengambilan kebijakan publik. Menurut dia, riset yang kredibel diperlukan agar keputusan pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam dilakukan secara bertanggung jawab.

Secara keseluruhan, riset IPB University dan TSE Group mencakup pemantauan populasi satwa liar, perlindungan area bernilai konservasi tinggi, serta penyusunan rekomendasi teknis bagi pengelolaan spesies kunci. Temuan tersebut diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lain dalam memperkuat konservasi satwa liar dan ekosistem Papua di tengah tekanan perubahan iklim. (*)

Meneliti Keanekaragaman Hayati dari Timur Indonesia

Perusahaan sawit nasional Tunas Sawa Erma (TSE) Group sedang membangun kapal penelitian bernama Papua Lestari. Foto: dok TSE.

Papua: Perusahaan sawit nasional Tunas Sawa Erma (TSE) Group sedang membangun kapal penelitian bernama “Papua Lestari” untuk  mencari tahu kehidupan kura-kura moncong babi dan ekosistem sungai habitatnya di Papua Selatan.

Kapal tersebut mampu menampung lima orang untuk beraktivitas di dalamnya. Selain ruangan untuk barang-barang perlengkapan penelitian, kapal ini juga dilengkapi sejumlah fasilitas untuk mempermudah pekerjaan para peneliti.

Kapal ini menjadi sebuah sarana penting dalam rangka melakukan penelitian biota air di Papua, terutama kura-kura moncong babi. Dengan adanya “Papua Lestari”, para peneliti bisa melakukan aktivitasnya dengan lebih baik sehingga diharapkan akan meningkatkan kualitas penelitian.

Kapal penelitian “Papua Lestari” sejatinya merupakan fasilitas yang disediakan oleh TSE Group, tak hanya menjadi alat transportasi bagi para peneliti, namun juga sebuah simbol untuk menyebarkan pesan pelestarian.

Pelestarian lingkungan

“Papua Lestari dibangun untuk meneliti ekosistem di sungai dan rawa di Papua, baik itu kura-kura moncong babi, ikan, ular dan lain sebagainya. Selain itu, kapal penelitian ini juga bisa menjadi simbol untuk membuka mata masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan,” ucap Direktur TSE Group, Luwy Leunufna, dalam keterangan tertulis, Selasa, 29 April 2025.

Perampungan kapal ini merupakan bagian dari komitmen program Papua Conservation yang dicanangkan TSE Group dan IPB University sejak 2022. Program ini bertujuan untuk melindungi hak kehidupan dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap hewan endemik.

Program ini tak hanya berfokus pada konservasi untuk kura-kura moncong babi saja, tapi juga hewan endemik Papua lainnya, yaitu cenderawasih kuning besar di Kabupaten Merauke dan Boven Digoel, Papua Selatan.

.

Sumber: www.metrotvnews.com

Hari Konvensi CITES: Ini Upaya Konservasi yang dilakukan Peneliti IPB University, Ada Spesies Baru

Aktivitas perburuan liar, eksploitasi berlebihan telah mengancam banyak flora dan fauna. Untuk itu, tanggal 6 Maret diperingati sebagai Hari Konvensi CITES sebagai peringatan perjanjian internasional untuk melindungi tumbuhan dan satwa liar.

Terkait hal itu, sejumlah peneliti IPB University dari Program Studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE) aktif melakukan penelitian untuk menyelamatkan flora dan fauna yang terancam punah.

Dr Nyoto Santoso, Ketua Departemen KSHE, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University, menjelaskan bahwa kontribusi ini menjadi sumbangsih IPB University dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.

Ia menyebut, salah satu hasil penelitian tersebut adalah ditemukannya spesies baru lutung Sentarum, primata endemik yang ditemukan di Taman Nasional Danau Sentarum, Kalimantan Barat.

Penelitian lutung Sentarum ini telah dimulainya sejak 2021-2023, bersama tim Fahutan IPB University, Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan (Yayasan KEHATI), dan Balai Taman Nasional Danau Sentarum.

“Spesies ini baru ditemukan di Taman Nasional Danau Sentarum pada 2018. Sementara data bioekologi baru terkumpul pada 2023,” ujarnya.

Tim peneliti IPB University juga yang mengusulkan spesies baru ini dengan nama lokal “Lutung Sentarum” dan nama ilmiah “Presbytis cruciger”. Hal ini didasarkan dari riset DNA Lutung Sentarum yang menunjukkan perbedaan lima persen dengan spesies lutung lainnya (Presbytis chrysomelas).

Tak hanya itu, para peneliti IPB University juga melakukan penelitian jangka panjang satwa endemik Papua: burung cendrawasih kuning besar (Paradisaea apoda) dan kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta). Penelitian kedua spesies langka dan terancam punah ini menggandeng PT Korindo-Tunas Sawa Erma.

Di Jawa, tim KSHE IPB University meneliti kodok merah (Leptophryne cruentata), spesies kodok yang sangat langka dan endemik. Penelitian ini bertujuan untuk perkembangbiakan kodok merah secara eks-situ di laboratorium Kampus Dramaga.

“Hasilnya akan kami lepasliarkan ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango untuk memperkuat populasi di alam,” tambah Dr Nyoto.

Penggunaan teknologi terkini seperti drone termal juga berperan penting dalam penelitian yang dilakukan tim IPB University. Misalnya, saat aktivitas monitoring terhadap gajah Sumatera, salah satu megafauna yang terancam punah di Provinsi Jambi.

Di Taman Nasional Way Kambas Lampung, tim IPB University juga telah mengembangkan Assisted Reproduction Technology (ART) untuk meningkatkan populasi badak Sumatera yang jumlahnya sudah semakin sedikit.

“Kami juga telah menerbitkan buku pedoman inventarisasi fauna dengan metodologi terkini, yakni menggunakan drone thermal dan kamera jebak. Langkah ini penting untuk mengidentifikasi populasi dan sebaran berbagai spesies fauna, khususnya fauna yang telah langka,” jelas Dr Nyoto.

Melalui buku ini, ia berharap dapat mendorong para peneliti lain untuk turut serta melakukan penelitian lapang tentang spesies fauna langka dan terancam punah. Di samping sebagai bahan pendampingan untuk staf Taman Nasional dan Balai Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem, Kementerian Kehutanan (BKSDA) yang tersebar di Indonesia.

Sejumlah pakar IPB University juga sering kali berbagi pandangannya dalam banyak kesempatan sesuai bidang yang dikuasai: ornithology, elang jawa, burung bermigrasi, ahli burung merak, ahli keanekaragaman hayati, ekologi, dan konservasi ekosistem mangrove.

Di tataran global, peneliti IPB University juga terus berupaya menyuarakan konservasi untuk dunia, salah satunya Prof Mirza Dikari Kusrini. Pakar di bidang herpetofauna menjadi salah satu inisiator terbentuknya Indonesia Species Specialist Group (IdSSG). Saat ini, ia menjabat sebagai Co-Chair IdSSG.

IdSSG adalah sebuah himpunan ahli dari berbagai kelompok taksonomi dan disiplin ilmu dalam upaya memulihkan penurunan jumlah spesies melalui perancangan kebijakan dan pengambilan keputusan berbasis data. Prof Dr Mirza juga menjabat sebagai Regional Vice-Chair IUCN SSC for South and East Asia. Beberapa dosen KSHE IPB University juga terlibat menjadi anggota IdSSG.

 

Melindungi kura-kura berhidung babi

Kura-kura berhidung babi. Foto milik Kadoorie Farm & Botanic Garden.

Kura-kura Asia dan kura-kura air tawar sangat menderita akibat perdagangan ilegal yang tidak diatur, yang dipanen untuk memenuhi permintaan daging, penggunaan dalam pengobatan tradisional, dan untuk perdagangan hewan peliharaan. Yang agak mengkhawatirkan, semakin banyak orang di seluruh dunia menjadi lebih tertarik untuk memelihara hewan peliharaan yang “eksotik”.

Permintaan hewan-hewan ini sebagai hewan peliharaan datang dari dalam negara tempat spesies ini hidup, dan luar negeri. Salah satu makhluk yang diperdagangkan secara internasional adalah kura-kura berhidung babi, Carettochelys insculpta. Dinamai berdasarkan moncong babinya, kura-kura ini lebih mirip sepupunya yang hidup di laut dengan sirip yang mirip dengan kura-kura laut.

Kucing ini hanya ditemukan di tiga negara, yaitu Indonesia, Papua Nugini, dan Australia. Dan sayangnya, semakin langka suatu makhluk, semakin tinggi premi yang diberikan padanya secara komersial, yang menarik penggemar dan pedagang reptil.

Dalam kurun waktu tujuh setengah tahun, para peneliti yang mengawasi perdagangan kura-kura hidung babi mengidentifikasi 26 penyitaan dengan total 52.374 kura-kura selundupan, yang terjadi di atau berasal dari Indonesia.

Monitor Conservation Research Society (MCRS) dan Oxford Wildlife Trade Research Group meneliti penyitaan tahun 2013-2020, mengamati jaringan dan pusat perdagangan kontemporer, memetakan rute, menilai penuntutan yang berhasil, dan dalam prosesnya, menandai kegagalan untuk memanfaatkan perangkat yang ada guna melindungi spesies tersebut dengan lebih baik dan anomali dalam cara perdagangan legal spesies tersebut diizinkan.

Indonesia muncul sebagai sumber terbesar spesies yang memasuki perdagangan ilegal; Dari 52.374 kura-kura yang disita, 10.956 disita dalam enam insiden perdagangan terpisah yang berasal dari Indonesia.

Di antara negara-negara tersebut adalah Malaysia, dengan dua pengiriman dicegat oleh pihak berwenang; satu di perairan Johor, dengan 3.300 ekor diselundupkan dengan perahu dari Pulau Bengkalis, Riau, Indonesia, sementara yang lain, yang melibatkan 4.000 ekor kura-kura terjadi di lepas pantai Sabah dekat Tawau.

Spesies ini dulunya dijual secara terbuka di toko hewan peliharaan tetapi sekarang semakin banyak dijual melalui aplikasi media sosial. Sampai undang-undang Malaysia berlaku untuk mengatasi kejahatan dunia maya terhadap satwa liar, pedagang daring akan terus mengeksploitasi celah ini. Malaysia juga merupakan titik transit untuk perdagangan kura-kura hidung babi yang berasal dari Indonesia.

Lokasi penyitaan kura-kura hidung babi yang terjadi di Indonesia, dan beberapa yang terjadi di luar negeri tetapi melaporkan Indonesia sebagai sumber dan jumlah individu yang disita. Hal ini berdasarkan 26 insiden penyitaan yang diperoleh selama periode Januari 2013 hingga Juni 2020.

Secara global, sebuah perjanjian yang disebut Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah (CITES) menyediakan sarana untuk mengatur perdagangan internasional spesies yang terancam oleh perdagangan, menggunakan sistem lampiran.

Kura-kura hidung babi tercantum dalam Lampiran II, yang berarti perdagangan hanya diizinkan dengan izin yang diperlukan — tetapi individu yang disita selama periode penelitian tidak memiliki izin apa pun. Selain itu, kura-kura ini sepenuhnya dilindungi di Indonesia. Meskipun ada perlindungan hukum ini, hanya sembilan dari 26 kasus yang berhasil dituntut, dengan “keberhasilan” yang dapat diperdebatkan karena tidak ada yang sepenuhnya sesuai hukum: hukuman penjara maksimum lima tahun dan denda sebesar US$7.132.

Pelanggar jarang menerima hukuman yang mendekati hukuman maksimum — hukuman penjara tertinggi yang diberikan kira-kira setengah dari hukuman maksimum yang mungkin. Sejauh yang dapat dinilai, tidak ada seorang pun yang didakwa atas pelanggaran berdasarkan Undang-Undang Kepabeanan (hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda US$356.583) atau Undang-Undang Perikanan 31 (hukuman maksimal lima tahun penjara dan denda US$106.975).

“Indonesia memiliki berbagai perangkat dalam bentuk undang-undang dan peraturan untuk berfungsi sebagai pencegah yang kuat, dan pada akhirnya untuk melindungi spesies ini dari eksploitasi berlebihan,” kata Dr. Chris R. Shepherd, penulis utama studi tersebut, seraya menambahkan: “Namun, perangkat tersebut tidak efektif jika tidak digunakan.”

Spesies yang dilindungi dapat diperdagangkan secara komersial di Indonesia jika spesimen tersebut telah dibiakkan hingga generasi kedua di penangkaran, dan hanya oleh pedagang yang memiliki lisensi untuk mengembangbiakkan spesies tersebut. Namun, pedagang di Indonesia diketahui menyalahgunakan peraturan ini dan mencuci hewan hasil tangkapan liar ke pasar internasional dengan kedok dibiakkan di penangkaran.

Kemungkinan operasi penangkaran palsu, mengingat waktu dan sumber daya yang dibutuhkan dalam penangkaran kura-kura berhidung babi hingga generasi kedua, juga ditandai dalam studi terbaru ini.

“Kemungkinan besar, kura-kura yang dinyatakan sebagai hasil penangkaran semuanya hasil tangkapan liar atau peternakan, dan dinyatakan palsu sebagai hasil penangkaran untuk menghindari pembatasan dan memungkinkan ekspor ke negara-negara yang pemeriksaan sumber hewan impornya longgar,” kata Dr. Vincent Nijman, salah satu penulis studi tersebut.

Pemulangan dan pelepasan satwa liar. Foto milik Kadoorie Farm & Botanic Garden.

Para penulis juga mempertanyakan bagaimana lebih dari 5.000 ekor kura-kura hidung babi diekspor sebagai hasil tangkapan liar, yang secara langsung melanggar undang-undang Indonesia sendiri, termasuk 80 ekor ke Amerika Serikat, yang melanggar Undang-Undang Lacey AS.

Sebagian besar ditujukan ke daratan Tiongkok dan Hong Kong. Menaikkan spesies ini ke Lampiran I CITES akan membantu negara-negara yang memiliki habitat untuk mendapatkan kerja sama yang lebih kuat dari Pihak CITES lainnya, karena spesies yang tercantum dalam CITES I pada umumnya dilarang untuk perdagangan komersial internasional, dan di beberapa negara, hukuman untuk perdagangan spesies yang tercantum dalam Lampiran I seringkali lebih tinggi.

Jelas, Indonesia sangat membutuhkan strategi yang kuat untuk secara efektif mengatasi perdagangan ini di sepanjang rantai perdagangan. Negara ini memiliki undang-undang dan infrastruktur yang harus digunakan untuk menghukum para penjahat satwa liar, dan pada akhirnya, melindungi kura-kura hidung babi dengan lebih baik.

Warga Malaysia juga memiliki peran untuk mengakhiri perdagangan ilegal kura-kura hidung babi. Kita perlu bersatu untuk membantu meningkatkan kesadaran akan masalah ini, dan tidak menjadi bagian dari masalah dengan membeli kura-kura berhidung babi.

Jika kita melihat kura-kura berhidung babi dijual, atau mengetahui seseorang memeliharanya sebagai hewan peliharaan, kita harus melaporkannya ke Hotline Departemen Margasatwa dan Taman Nasional di 1-800-88-5151 (jam kerja Senin-Jumat) atau Hotline Kejahatan Margasatwa MYCAT 24 jam di 019-356 4194.

Saatnya kita berperan!

Perdagangan satwa liar ilegal, penyitaan, dan penuntutan: analisis perdagangan kura-kura berhidung babi Carettochelys insculpta selama 7 setengah tahun di dan dari Indonesia oleh Chris R. Shepherd, Lalita Gomez, dan Vincent Nijman diterbitkan dalam Global Ecology and Conservation.

Sumber: www.nst.com.my

Aparat Gagalkan Penyelundupan 1.220 Ekor Kura-kura Moncong Babi

TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

TEMPO Interaktif, Jakarta – Petugas keamanan Bandara Mozes Kilangin Timika, Papua, menggagalkan upaya penyelundupan ribuan ekor kura-kura moncong babi ke Jakarta dengan menggunakan pesawat Sriwijaya Air, Kamis, 24 Maret 2016.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Timika Yohan Frans Mansay mengatakan bahwa jumlah kura-kura moncong babi yang hendak diselundupkan sebanyak 1.220 ekor.

Kura – Kura Moncong Babi tersebut dikemas dalam dua kardus. “Ada seseorang berinisial “S” yang membawa barang tersebut ke terminal Bandara Timika. Saat pemeriksaan di mesin x-ray, petugas mencurigai barang tersebut sebelum akhirnya disita. Petugas kemudian menghubungi pihak karantina. Setelah diperiksa, ternyata di dalam kardus tersebut terdapat ribuan kura-kura moncong babi yang dilindungi,” kata Yohan.

Ia mengatakan kura – kura moncong babi tersebut dibawa ke Polsek Bandara Timika sebelum diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Timika untuk diamankan di areal reklamasi tailing PT Freeport Indonesia di Maurupauw, MP 21.

“S” bekerja sebagai petugas ground handling maskapai Sriwijaya Air di Bandara Mozes Kilangin Timika. Yohan belum bisa memastikan siapa pemilik ratusan kura-kura moncong babi tersebut. “Kami sudah laporkan ke Kepala BKSDA Papua. Kami akan menunggu kedatangan penyidik pegawai negeri sipil untuk menyelidiki kasus ini,” katanya.

“Kami meminta dukungan dari semua pihak untuk membantu kami mencegah penyelundupan kura-kura moncong babi dari Papua karena kura-kura moncong babi termasuk satwa yang dilindungi,” kata Yohan.

Pada bulan Februari lalu, otoritas Bandara Timika juga telah menggagalkan upaya penyelundupan 3.220 ekor kura-kura moncong babi dari Timika ke Jakarta yang dikemas dalam empat koper.

Kura-kura moncong babi merupakan satwa endemik Papua yang dilindungi. Satwa langka ini hanya hidup di kabupaten-kabupaten di bagian selatan Papua, seperti Mappi, Asmat, dan Mimika.

Sumber : tempo.co

Kura-kura Moncong Babi dari Merauke Gagal Diselundupkan ke Kalimantan

15 ekor kura-kura moncong babi diamankan saat akan diselundupkan ke Kalimantan menggunakan MT, Sabtu (24/2). (ANTARA/HO/Dok Karantina Papua Barat)

JAKARTA – Karantina Papua Selatan menggagalkan penyelundupan kura-kura moncong babi yang akan dikirim melalui Pelabuhan Merauke.

“Memang benar petugas karantina telah menggagalkan penyelundupan kura-kura moncong babi yang akan diselundupkan menggunakan Kapal Motor MT dengan tujuan Kalimantan pada Sabtu (24 Februari),” kata Kepala Karantina Papua Selatan, Cahyono, saat dihubungi di Jayapura, Minggu (25/2) malam, dikutip dari Antara.

Tercatat 15 ekor kura-kura moncong babi tersebut dimasukkan ke dalam ember yang diletakkan di rak sepatu, kemudian ditutup dengan kain.

Dalam keterangan tertulisnya, Cahyono menyayangkan masih adanya oknum yang tidak bertanggung jawab yang membawa satwa endemik yang dilindungi.

“Kita harus menjaga sumber daya alam di Papua, baik flora maupun fauna agar tetap lestari, karena jika tidak, dapat mempercepat kepunahan dan mengganggu ekosistem habitat aslinya,” katanya.

“Karantina akan berupaya semaksimal mungkin untuk mencegah penyelundupan hewan dan tumbuhan asli Papua,” kata Cahyono.

Kepala Tim Penegakan Hukum Karantina Papua Selatan, Suwarna Duwipa, menambahkan bahwa penyelundupan 15 ekor kura-kura moncong babi dan seekor burung dara berhasil digagalkan melalui pengawasan di pelabuhan.

Pengawasan dilakukan terhadap kapal-kapal yang akan keluar dari Pelabuhan Merauke untuk mencegah terjadinya penyelundupan, khususnya hewan dan tumbuhan yang dilindungi sesuai dengan Pasal 72 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.

Karantina memiliki tugas untuk melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap tumbuhan dan satwa liar, serta tumbuhan dan satwa langka.

Apalagi kura-kura moncong babi merupakan satwa endemik wilayah selatan Papua yang dilindungi karena keberadaannya di alam sudah sedikit.

“Menurut International Union Conservation Nature (IUCN), kura-kura moncong babi berstatus rentan (vulnerable), dan masuk dalam daftar merah Apendiks II Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Tumbuhan dan Satwa Liar yang Terancam Punah (CITES),” kata Duwipa.

Kura-kura moncong babi tersebut akan diserahkan kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) wilayah Merauke sebagai instansi yang berwenang untuk melakukan proses lebih lanjut.

 

Source: voi.id

Kura-kura moncong babi di Kebun Binatang S’pore yang mengikuti pengunjung berkeliling di pameran sebenarnya tidak kesepian

Seorang pengunjung Kebun Binatang Singapura baru-baru ini menemukan seekor kura-kura yang sedang menyendiri di dalam pameran.

Dalam sebuah video TikTok yang kini menjadi viral dan telah ditonton lebih dari 555.000 kali, kura-kura tersebut terlihat berenang di dalam kandangnya sambil membuntuti kamera.

Pengguna TikTok, @peters.human, mengklaim bahwa kura-kura itu “sangat kesepian”.

“Dia adalah satu-satunya penyu di kandang dan saya tahu dia menginginkan perhatian manusia karena dia terus mengikuti kami saat kami berjalan,” tulis pengguna TikTok tersebut.

Ini adalah pertunjukan pertama yang kami lihat, dan kami adalah beberapa orang pertama yang datang ke kebun binatang pada hari itu.

Ketika kami berjalan melewatinya, kura-kura itu dengan cepat berenang ke arah kami dan ketika kami berjalan turun, dia mengikuti kami di sepanjang jalan.

Kami ingin melihat apakah dia benar-benar mengikuti kami, jadi kami berjalan kembali ke awal tangki dan dia berenang kembali ke dekat kami!

Banyak orang yang hanya berjalan melewati kandang ini karena kandang ini kosong dan hanya dia yang ada di dalamnya… dia kesepian.

Suaka Margasatwa @Mandai tolong jelaskan mengapa hanya dia yang ada di dalam kandang!

#tiktoksg #singaporetiktok #singaporezoo #zoo #kura-kura #kura-kura #kura-kura  #kura-kura #kura-kura #kura-kura #hewan #kehidupan #kebun #mengunjungi #dia #sendirian #saya #tidak #menangis

(https://www.tiktok.com/@jihae.0706/video/7332923443375050002?referer_url=www.papuaconservation.com%2Fpig-nosed-turtle-at-spore-zoo-that-follows-visitors-around-in-its-exhibit-isnt-actually-lonely%2F&refer=embed&embed_source=121374463%2C121468991%2C121439635%2C121433650%2C121404359%2C121351166%2C121331973%2C120811592%2C120810756%3Bnull%3Bembed_blank&referer_video_id=7332923443375050002). 

Para pengguna TikTok dalam komentar menimpali dengan seruan betapa lucunya tingkah polah kura-kura itu.

Shiny Star: Saya selalu melihat dia!!!. Dia sangat menggemaskan dan selalu mengikuti saya juga. 

Owo: Dia sangat lucu Oh Tuhan, Bagaimana tidak orang – orang melihat dia. 

Ira.R: @Singapore Zoo dia sangat kesepian, Tolong bantu dia untuk menemui banyak pengunjung. 

 

Kura-kura moncong babi membuat penasaran

Menanggapi pertanyaan Mothership, seorang juru bicara dari Mandai Wildlife Group mengatakan bahwa kura-kura moncong babi, yang juga dikenal sebagai kura-kura sungai terbang, berjenis kelamin jantan.

Dia ditempatkan di pameran sungai di zona kuda nil kerdil di Kebun Binatang Singapura.

Kura-kura ini diperkirakan berusia 21 tahun dan saat ini berbagi habitat dengan ikan duri filamen, sejenis ikan.

Juru bicara tersebut mengatakan bahwa kura-kura jenis ini dikenal memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan “umumnya suka menyelidiki kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya”.

“Mereka sering terlihat berenang di sepanjang tangki saat para tamu lewat, karena perilaku mereka yang selalu ingin tahu.”

Perilaku ini, yang ditampilkan dalam video TikTok, bukanlah tanda kesepian atau stres, kata juru bicara tersebut.

 

Sendirian tapi tidak kesepian

Juru bicara Mandai Wildlife Group menambahkan bahwa kura-kura moncong babi adalah spesies penyendiri, dan individu-individu hanya berkumpul selama musim kawin.

“Karena mereka bersifat teritorial dan agresif, individu-individu dari spesies yang sama tidak ditempatkan bersama,” tambah mereka.

Seorang pengguna TikTok yang bekerja untuk Mandai Wildlife Group juga menyuarakan pendapatnya tentang masalah ini dalam sebuah video.

Mengklarifikasi bahwa ia membagikan pandangannya dalam kapasitas pribadinya, pengguna @p1kashiu mengatakan bahwa banyak orang cenderung melihat hewan sebagai “manusia mini”

Hal itu keliru. Banyak hewan yang “sendirian tetapi tidak kesepian”, kata @p1kashiu.

Ketika bukan musim kawin, hewan mungkin melihat individu lain sebagai ancaman bagi makanan dan sumber daya mereka.

“Jadi banyak hewan, terutama kura-kura, lebih suka menyendiri,” katanya, menggemakan apa yang dikatakan oleh juru bicara Mandai Wildlife Group tentang sifat soliter spesies ini.

Ambil contoh penyu terrapin. Individu cenderung menjadi lebih agresif seiring bertambahnya usia dan ukurannya.

Saran @p1kashiu adalah untuk tidak memelihara lebih dari satu ekor terrapin di tempat yang sama.

Anda dapat menonton video lengkapnya di sini.

(https://www.tiktok.com/@p1kashiu/video/7333434072162782472?referer_url=www.papuaconservation.com%2Fpig-nosed-turtle-at-spore-zoo-that-follows-visitors-around-in-its-exhibit-isnt-actually-lonely%2F&refer=embed&embed_source=121374463%2C121468991%2C121439635%2C121433650%2C121404359%2C121351166%2C121331973%2C120811592%2C120810756%3Bnull%3Bembed_blank&referer_video_id=7333434072162782472). 

Membalas @IlikeySegk TLDR- banyak kura-kura yang tidak bersosialisasi seperti manusia#flyriverturtle #pignosedturtle #turtle #mandaiwildlifereserve #singaporezoo #singapore

 

Lebih lanjut tentang kura-kura moncong babi

Penyu moncong babi berasal dari Australia dan Papua Nugini, dan dinamakan demikian karena moncongnya yang berbeda.

Tidak seperti penyu air tawar lainnya, penyu moncong babi memiliki sirip yang mirip dengan penyu.

Mereka diklasifikasikan sebagai “Terancam Punah”, menurut Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN).

Ancaman utama spesies ini adalah perdagangan hewan peliharaan ilegal, serta permintaan untuk penyu dan telurnya sebagai makanan.

 

Sumber : mothership.sg

Penyelidikan filogeografi dan forensik kura -kura moncong babi yang terancam punah – Matthew Young

https://youtu.be/YgxAcTmV__A

Kura-kura moncong babi yang terancam punah (Carettochelys insculpta) merupakan hewan endemik Australia utara dan Papua Nugini selatan. Ancaman utama bagi spesies ini adalah eksploitasi yang tinggi untuk perdagangan satwa liar internasional. Jutaan telur C. insculpta dikumpulkan setiap tahunnya sepanjang tahun 1990-an untuk dijual sebagai tukik, dan ribuan tukik terus disita dari para penyelundup satwa liar setiap tahunnya di luar daerah sebaran aslinya. Untuk memerangi perdagangan ilegal dan menerapkan tindakan konservasi, studi forensik satwa liar membutuhkan penilaian filogeografis yang kuat dari populasi liar untuk dapat secara akurat menempatkan individu pada populasi sumber. Penelitian PhD saya bertujuan untuk menggunakan genotipe SNP kura-kura liar dan kura-kura yang diperdagangkan untuk menentukan a) sejarah filogeografi C. insculpta, dan b) asal usul C. insculpta yang diperdagangkan dari Australia, Hong Kong, Eropa, Kanada, dan Amerika Serikat. Penelitian filogeografis menunjukkan bahwa vikarius, kemungkinan besar disebabkan oleh fluktuasi permukaan laut yang terkait dengan siklus glasial Pleistosen, serta konektivitas paleodrainase di seluruh Paparan Sahul yang saat ini terendam, telah berperan besar dalam membentuk distribusi dan keragaman garis keturunan. Kemacetan yang berkepanjangan dan pergeseran genetik telah terjadi, dan penyelamatan genetik harus dipertimbangkan untuk pengelolaan konservasi spesies ini di Australia. Sumber kura – kura moncong babi yang diperdagangkan telah diidentifikasi dan implikasinya terhadap rute perdagangan akan dibahas.

Tentang Matt: Minat penelitian Matt berfokus pada ekologi dan genetika konservasi, dengan kecintaan khusus pada reptil dan amfibi. Penelitian tentang kura – kura moncong babi telah menjadi bagian besar dari pelatihan dan awal karirnya. Dimulai dengan kuliah lapangan sarjana di Jervis Bay di Taman Nasional Booderee yang mempelajari ekologi pergerakan penyu berleher panjang, dan kemudian menjadi sukarelawan di proyek yang sama setelah lulus, dia belajar betapa menyenangkannya mengejar kura – kura air tawar di bawah air. Matt dipekerjakan oleh MDBfutures CRN untuk melakukan perjalanan melintasi Australia timur untuk mengumpulkan sampel genetik dari semua spesies kura – kura yang ditemui. Salah satu penelitian yang menjadi sorotan adalah snorkeling untuk kura – kura moncong babi di Papua Nugini, yang jauh lebih cepat di bawah air daripada penyu kecil yang pertama kali ia kejar saat masih kuliah. Matt pernah bekerja sebagai Ahli Ekologi di ACT Parks and Conservation Service, dan menjadi pengajar untuk program sarjana. Di waktu luangnya, Matt sering menyelamatkan penyu yang mencoba menyeberang jalan.

Komunitas Adat di Papua Nugini Melindungi kura – kura Moncong Babi Langka

Yolarnie Amepou adalah Direktur Jaringan Keanekaragaman Hayati Piku. Ketika ia mulai mengajar anak-anak di Kikori, yang terletak di Provinsi Teluk Papua Nugini, untuk berhenti berburu kura – kura moncong babi yang sangat terancam punah, beberapa orang tua tidak terlalu senang.

“Seorang anak berkata kepada ibunya, ‘Biarkan aku membawa kura – kura moncong babi itu ke Larnie untuk mengukurnya.’ Dan di suatu tempat antara rumahnya dan rumah Larnie, makan malam mereka hilang,” Amepou terkekeh.

Berkat upaya Amepou dengan Jaringan Keanekaragaman Hayati Piku, tingkat kelangsungan hidup bayi kura – kura moncong babi di Papua Nugini telah meningkat. Sejak 2012, organisasi tersebut telah mengajarkan kelompok Adat Kikori setempat, khususnya anak-anak sekolah, untuk melindungi spesies penting ini sambil melakukan penelitian konservasi bersama mereka.

Yolarnie Amepou menunjukkan cara menyiapkan bak pengaman untuk mengerami telur kura – kura moncong babi saat Obiri, seorang Penjaga kura – kura moncong babi, mengamati sehingga ia dapat membantu Penjaga kura – kura moncong babi membuat 19 bak lagi. Telur-telur dipindahkan dari gundukan pasir alami dan disimpan dengan aman di bak-bak ini sambil menunggu menetas. Kredit gambar: Courtesy of Piku Biodiversity Network.

Kura- kura moncong babi, Carettochelys insculpta, merupakan hewan endemik di Australia utara dan Papua Nugini. Dikenal juga sebagai kura-kura Piku, hewan ini memegang peranan penting dalam budaya Papua Nugini, bahkan tergambar pada koin 5t negara tersebut. Namun, hal ini tidak menghentikan penurunan populasi Piku. Akibat aktivitas manusia, hewan ini kini terancam punah. Di Australia, kerusakan merupakan ancaman utama bagi mereka, sementara di Papua Nugini, perburuan liar adalah penyebabnya.

Kura-kura Piku betina menjadi sasaran utama. Kura-kura moncong babi betina tidak hanya bersarang dalam kelompok, tetapi saat salah satu dari mereka mulai bertelur, ia akan menjadi tidak sadar dan tidak menyadari keadaan di sekitarnya. Saat itulah ia paling rentan terhadap predator manusia. Pada tahun 2011, para ilmuwan dari Universitas Canberra, Australia, mengidentifikasi bahwa populasi Piku telah turun hingga 57% dalam 30 tahun terakhir.

Kikori Turtle Rangers menemukan sarang dan memindahkannya ke bak pengaman. Kredit foto: Atas kebaikan Joyce Mavere, Kikori Turtle Rangers

Perdagangan ilegal juga terjadi. Lebih dari 80.000 ekor kura-kura hidung babi disita oleh pihak berwenang antara tahun 2003 dan 2013 di Papua Nugini dan Indonesia. Karena itu, Amepou memulai kampanye edukasi di Delta Kikori, salah satu lokasi bersarang utama bagi kura-kura ini. Pendekatannya adalah dengan memberikan pengetahuan kepada masyarakat setempat tentang pentingnya kura-kura hidung babi dan menyediakan sumber mata pencaharian alternatif bagi mereka.

Kikori Turtle Rangers

Organisasi dan masyarakat tersebut mendirikan sebuah proyek yang disebut “We Are the Kikori Turtle Rangers.” Para penjaga berpartisipasi dalam pemantauan, inkubasi, dan penetasan kura-kura, serta program edukasi. Beberapa penjaga telah menjadi bagian dari perjalanan ini sejak mereka masih anak-anak.

Yolarnie Amepou bersama murid-murid sekolah dasar di Kikori untuk kegiatan penetasan telur. Kredit gambar: Courtesy of Piku Biodiversity Network

“[Dari] semua penjaga hutan ini, sepuluh di antaranya pernah menjadi bagian dari kegiatan Piku di masa lalu saat mereka masih sekolah. Salah satunya masih duduk di Kelas 4 saat saya pertama kali datang ke sini. Sekarang, dia sudah dewasa dan punya keluarga sendiri. Setelah bertahun-tahun, Anda mulai menyadari bahwa ini bukan hanya tentang penyu, tetapi tentang pemberdayaan masyarakat, membangun masyarakat untuk mengelola dan memiliki sumber daya mereka sendiri. Ini kemudian menguntungkan penyu,” kata Amepou.

Amepou berharap untuk berkembang, bekerja sama dengan semakin banyak orang Kikori untuk mempromosikan apa yang dilakukan dan dapat dilakukan seorang penjaga hutan di masyarakat mereka. Namun, salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah kesulitan dalam mengoordinasikan inisiatif tersebut. Tujuh suku yang berbeda tinggal di area proyek, masing-masing dengan bahasa mereka sendiri yang khas. Ada juga kekurangan dana yang mencegah banyak penjaga hutan mendapatkan penghasilan.

Dengan optimis, Amepou berharap suatu hari nanti dia akan dapat membayar semua penjaga hutan dan memberi masyarakat setempat kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak pekerjaan, sambil juga berpartisipasi dalam konservasi. Dia ingin menginspirasi kaum muda untuk memimpin. “Kaum muda sudah menunjukkan kepemimpinan dan memiliki pengaruh besar dalam komunitas mereka,” kata Amepou.

Sumber: www.oneearth.org