Skip to main content

Asal-usul Burung Cendrawasih, Tokoh dan Pesan Moral

Burung Cendrawasih.(Shutterstock/Wisnu Yudowibowo)

Burung Cendrawasih memiliki bulu-bulu yang indah seperti bidadari. Burung Cendrawasih masuk dalam spesies Paradisaeidae dari ordo Passeriformes. Satwa ini ditemukan di Indonesia bagian timur Papua, Papua New Guinea, Australia Timur, dan pulau-pulau selat Torres. Dibalik keindahannya, Burung Cendrawasih menjadi salah legenda yang merupakan cerita rakyat Papua Barat. Dikutip dari buku cerita rakyat Papua Barat ‘Cenderawasih Si Burung Bidadari’ yang ditulis Dwi Pratiwi menceritakan tentang asal-usul Burung Cenderawasih.

Burung Cendrawasih  Asal-usul Burung Cendrawasih Legenda asal-usul Burung Cendrawasih menceritakan kisah seorang anak bernama Kweiya yang tinggal bersama ibu Baria, bapak tiri (Pak Bone) dan adik tirinya, Niko dan Kiara.

Suatu hari Kweiya tidak ikut ayah dan ibu ke ladang. Kweiya mengajari dua adiknya belajar menganyam noken, tas papua yang terbuat dari serat kayu.

Niko, salah satu adik tiri Kweiya, merasa putus asa karena tidak bisa membuat noken, dia malah mengulur-ulur benang.

Kweiya menegurnya, karena benang yang sudah terulur susah dijalin.

Niko tidak menghiraukan perkataan kakaknya. Ia tetap mengulur benang menjadi tidak beraturan.

Kweiya tidak banyak bicara, namun ia langsung mengambil benang yang diulur Niko lalu masuk ke dalam rumah dengan sedikit kesal.

Kiara, adik tiri Kweiya, memanggil kakaknya yang tidak keluar-keluar dari dalam rumah.

Ternyata di dalam rumah, Kweiya bersembunyi di salah satu sudut rumah sambil memintal benang. Pintalan benang itu akan digunakan untuk membuat sayap.

Saat bapak dan ibu pulang dari ladang, mereka ikut mencari Kweiya setelah mendengar peristiwa yang menyebabkan Kweiya pergi meninggalkan kedua adiknya.

Beramai-ramai, mereka mencari sambil memanggil-manggil nama Kweiya, namun yang terdengar justru suara burung.

Setiap nama Kweiya dipanggil yang menjawab malah suara burung.

Suara itu ternyata suara Kweiya yang telah menyisipkan pintalan benang pada ketiaknya. Lalu, ia melompat ke atas bubungan rumah dan terbang ke salah satu dahan pohon di sekitar rumah.

Ternyata, Kweiya telah berubah menjadi burung yang sangat indah dengan bulu berwarna-warni.

Mengetahui hal tersebut, ibu Baria menangis tersedu-sedu sambil meminta benang pintalan. Ia sampai duduk bersimpuh sambil menatap burung yang ada dahan pohon.

Ibu Baria masih tidak percaya dengan pemandangan yang ada dihadapannya. Lalu, ia menanyakan pada Kweiya yang telah berubah menjadi burung tentang benang pintalan untuknya.

Kweiya memberitahu bahwa benang pintalan disisipkan di dalam payung tikar.

Ibu Baria segera mencari benang pintalan dan menyisipkan pada ketiaknya. Seketika, ibu Baria berubah menjadi seekor burung. Setelah itu, ia mengepak-ngepak sayapnya dan menyusul Kweiya bertengger di dahan pohon.

Sementara bapak dan kedua adik tiri Kweiya hanya bisa pasrah menerima peristiwa ajaib itu. Lalu, Pak Bone memberi nama burung itu manbefor.

Untuk mengungkapkan rasa sayang pada ibu Baria dan Kweiya, Kiara dan Niko menutup wajahnya dengan kain hitam. Seketika, mereka berubah menjadi burung dan terbang ke hutan rimba menyusul ibu Baria dan Kweiya.

Itulah sebabnya di hutan rimba Papua dipenuhi beragam burung, selain Burung Cendrawasih.

Burung Manbefor yang sekarang dikenal sebagai Burung Cendrawasih sangat terkenal dengan keindahan bulunya.

Pesan Moral Legenda Burung Cendrawasih

Cerita ini mengajarkan bahwa keluarga selalu dapat diandalkan. Keluarga akan melakukan apa saja untuk memberikan dukungan. Untuk itu itu, keluarga adalah keutamaan yang dimiliki dalam hidup. Editor: Sri Anindiati Nursastri

Sumber: Kompas.com

Potret Cendrawasih dalam Seni Ukir Kayu, Pameran Seni di Galeri B9 Unnes

Pengunjung menikmati karya seni ukir di Anung Gunarto, menggelar pameran seni ukir kayu di Galeri B9 Universitas Negeri Semarang, Selasa (12/10). (suaramerdeka.com/ Aristya Kusuma Verdana)

SEMARANG, suaramerdeka.com – Perupa asal Bandungrejo, Karanganyar, Demak, Anung Gunarto, menggelar pameran seni ukir kayu di Galeri B9 Universitas Negeri Semarang pada Senin-Minggu (11-17/10 ).

Karya yang disajikan adalah potret kehidupan burung cendrawasih ekor kuning.

“Menikmati keindahan burung cendrawasih ekor kuning dalam bentuk seni ukir. Sekaligus sebagai sarana kampanye pelestarian populasi burung tersebut,” kata Anung.

Di galeri, terdapat sebanyak 10 karya seni ukir berbentuk persegi panjang, lengkap dengan figura kayu.

Karya ini diberi nama Cendrawasih 1-Cendrawasih 10. Anung menampilkannya dengam ukuran 60×80 cm.

“Galeri dibuka siang hari. Sampai pukul 15.00,” bebernya.

Pameran ini, kata dia, dibuka untuk umum. Letak gedung berada di samping Kampung Budaya Univeristas Negeri Semarang.

Pengunjung dapat melewati gerbang utama kampus. “Tetap mematuhi protokol kesehatan yang ketat,” tuturnya.

Mahasiswa tingkat akhir Pendidikan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang tersebut menggambarkan kehidupan burung yang berasal dari Provinsi Papua dalam warna cokelat.

Anung mempertahankan ciri khas seni ukir dengan warna alaminya.

“Burung cendrawasih ekor kuning memiliki bentuk tubuh yang sangat indah, khususnya burung jantan saja. Memiliki bulu dan ekor yang sangat eksotik dan bentuk tubuh yang lebih besar dari betina. Keeksotikannya digunakan untuk menarik perhatian burung betina.”

Dia menjelaskan, burung ini memiliki habitat di hutan hujan tropis. Biasanya burung ini tinggal di lembah-lembah wilayah pegunungan.

Mereka suka bergelantungan di ranting pohon terbalik. Hal itu dilakukan saat musim kawin.

“Bulu ekornya mengembang sambil dikibas-kibaskan. Para pejantan juga bersuara untuk menarik perhatian burung betina,” tulisnya.

Saat ini, kata dia, burung yang dikategorikan sebagai satwa yang dilindungi tersebut hampir punah. Pengembangbiakannya terbilang lambat dari burung lainnya.

Dalam sekali bertelur mereka menghasilkan satu hingga dua telur.

“Burung ini harus dijaga populasinya,” pungkasnya.

 

Sumber : suaramerdeka.com

Lebih Dekat dengan Cenderawasih, Hewan Endemik Papua yang Dijuluki Bird of Paradise

Arthur Chapman

GridKids.id – Kids, kali ini kamu akan diajak untuk mengenal lebih dekat satwa endemik Papua yaitu burung cenderawasih.

Burung cenderawasih merupakan kelompok famili Paradisaeidae yang masuk dalam ordo Passeriformes.

Habitatnya berada di wilayah Indonesia Timur tepatnya di Papua, Papua Nugini, pulau-pulau Selat Torres, dan Australia Timur.

Cenderawasih bahkan dijuluki sebagai Bird of Paradise atau burung dari surga karena keindahannya yang seolah turun dari surga.

Masyarakat Papua meyakini bahwa burung cendrawasih adalah titisan dari surga karena keindahan warna bulu burung ini yang amat memesona. Bulu cenderawasih memang sering dipergunakan untuk pakaian dan acara adat masyarakat Papua.

Nama cenderawasih menurut etimologi merupakan gabungan dari dua kata, yaitu cendra yang berarti dewa atau dewi, dan wasih yang artinya utusan.

Salah satu spesies burung cendrawasih yang terkenal adalah Cenderawasih Kuning Besar (Paradisaea apoda) yang dulunya menjadi komoditi dagang masyarakat pribumi Papua dengan orang-orang Eropa.

Berikutnya akan dijelaskan tentang karakteristik dan fakta unik perilaku burung endemik Papua yang memiliki tampilan cantik ini.

Yuk, langsung simak seperti apa uraian informasi di bawah ini!

Karakteristik Burung Cenderawasih

Stavenn

Burung cenderawasih memiliki bulu-bulu indah, khususnya pada burung jantannya.

Bulu cenderawasih biasanya berwarna cerah yaitu campuran warna hitam biru, kuning, merah, cokelat, hijau dan putih.

Burung ini memiliki ukuran yang sangat beragam, mulai dari 15 cm hingga 110 cm dengan berat berkisar antara 50 gram hingga 430 gram berdasar spesiesnya.

Bentuk kaki burung ini adalah untuk tipe burung petengger dengan jari kaki yang panjang dan telapak kaki datar.

Bentuk kaki itu akan memudahkan burung untuk bertenggar di ranting pohon.

Paruhnya adalah paruh burung pemakan biji yang berbentuk tebal dan runcing, bentuk paruh tersebut berguna untuk memecahkan biji.

Makanan cenderawasih adalah biji-bijian, buah berry, serangga, dan ulat.

Habitat burung cenderawasih berada di kawasan hutan dataran rendah hingga daerah pegunungan di wilayah Indonesia Timur, yaitu hutan tropis dengan vegetasi lebat di wilayah kepulauan Selat Torres, Pulau Papua (Indonesia dan Papua Nugini), dan Australia Timur.

Beberapa jenis pohon yang sering dijadikan tempat tinggal cenderawasih adalah pohon beringin, pohon pala, pohon pandan, kayu merbau, semai nyatoh, dan Hapololobus sp.

Pohon-pohon tersebut dijadikan tempat bernaung, bertengger, melindungi diri dan bersarang untuk telur-telurnya. Cenderawasih kuning kecil (Paradisaea minor) banyak berkembang di pohon beringin.

Burung ini cocok hidup di hutan primer, sehingga jika habitatnya sudah mengalami perubahan, burung ini akan pindah ke wilayah lain yang memiliki karakteristik tepat untuk habitat tinggalnya.

Perilaku Burung Cenderawasih

Andrea Lawardi

Burung cenderawasih adalah hewan yang soliter atau hidup dalam kelompok kecil dan hanya akan berkumpul ketika musim kawin.

Seperti cenderawasih kuning kecil yang umumnya hidup dalam kelompok kecil sejumlah 2 ekor, bisa jantan betina atau dengan kombinasi jenis kelamin yang sama.

Ketika musim kawin, cenderawasih akan menari untuk menarik perhatian cenderawasih betina.

Sebelum menari dan mempertontonkan bulu-bulunya yang cantik, cenderawasih jantan akan membersihkan paruh dan lingkungan di sekitar sarang.

Tarian burung cenderawasih jantan akan dibarengi dengan kicauan yang khas.

Hewan ini memulai aktivitasnya sejak pagi ketik matahari terbit dan akan beristirahat ketika cuaca sudah berubah panas atau menjelang sore hari, bertengger di percabangan rendah atau miring dan terlihat meregangkan sayapnya.

Di Jayapura, Papua, sekarang sudah tersedia lokasi untuk mengamati langsung burung cenderawasih yang enggak terlalu jauh dari pusat kota, yaitu Wisata Alam Bird of Paradise di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, dan di Bird Watching Isyo Hills di Kampung Repang Muaif, di Distrik Nimbokrang.

Itulah tadi uraian tentang karakteristik dan perilaku dari cenderawasih, burung endemik Papua yang memiliki bulu-bulu yang cantik dan eksotis ini.

 

Sumber : grid.id

BBKSDA Papua ingatkan penggunaan mahkota cenderawasih imitasi

Kepala BBKSDA Papua Edward Sembiring meminta dukungan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi dalam perlindungan terhadap satwa cenderawasih dengan menggunakan yang imitasi (ANTARA News Papua/HO-Humas BBKSDA Papua)

Ancaman serius bagi penggunaan mahkota cenderawasih asli

Jayapura (ANTARA) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua kembali mengingatkan untuk penggunaan mahkota cenderawasih imitasi dalam perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di wilayahnya.

Kepala BBKSDA Papua Edward Sembiring di Jayapura, Senin, mengatakan hal ini untuk memberikan perlindungan terhadap jenis cenderawasih kuning kecil (Paradisaea minor) dan cenderawasih kuning besar (Paradisaea apoda) yang melekat dalam tatanan adat sebagian besar suku di Papua.

“Langkah perlindungan tersebut adalah penggunaan mahkota cenderawasih imitasi sebagai pengganti yang asli,” katanya.

Menurut Edward, pihaknya juga meminta dukungan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi dalam perlindungan terhadap satwa cenderawasih.

“Dalam ajang PON XX yang akan digelar di Papua pada 2021 dapat menjadi ancaman serius bagi penggunaan mahkota cenderawasih asli,” ujarnya.

Dia menjelaskan salah satu langkah tepat mencegah tindak ilegal terhadap cenderawasih adalah dengan memproduksi mahkota cenderawasih imitasi.

“Hal ini telah dirintis oleh Kelompok Desa Binaan Konservasi Kena Nembey di Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura,” katanya lagi.

Dia menambahkan harapan pihaknya, produksi mahkota cenderawasih imitasi ini bisa menjadi potensi ekonomi bagi masyarakat setempat, peluangnya sangat besar untuk dipasarkan saat PON XX, menjadi buah tangan khas Papua.

“Kami perlu dukungan berbagai pihak dalam perlindungan cenderawasih dengan cara menggunakan mahkota imitasi, bukan yang asli,” ujarnya lagi.

Lodiwik yang bermarga Serontouw menjadi salah satu pelopor perlindungan cenderawasih di Kampung Tablasupa. Bila dirunut dari sejarah, tidak bersinggungan secara langsung dengan satwa liar dilindungi tersebut. Upaya melindungi burung cenderwasih ini menandakan bahwa perlindungan terhadap satwa liar milik negara, khususnya cenderawasih, dapat dilakukan oleh semua pihak tanpa pengecualian.

Sebelumnya, Kepala BBKSDA Papua Edward Sembiring menghadiri Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panitia Kerja Komisi IV DPR RI bersama para Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Taman Nasional pada Kamis (16/9) di Jakarta.

Dalam pertemuan tersebut, Edward meminta dukungan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi dalam perlindungan terhadap satwa cenderawasih dengan menggunakan yang imitasi.

Mahkota Cenderawasih Bukan Untuk Cendera Mata

Gardaanimalia.com – Pada awal abad ke-16, kapal-kapal dagang bersandar di dermaga Cambay, India. Mereka baru saja mengarungi perjalanan panjang dari perairan paling timur Asia Tenggara sembari singgah di pulau-pulau dengan nama asing seperti Aru dan Tanimbar. Dari kapal-kapal itu, diturunkan kargo berisi barang-barang eksotik hasil transaksi dengan penduduk lokal. Di antaranya adalah tiga puluh potong pakaian dengan bulu-bulu kuning menyala dan satu tubuh burung awetan tanpa kaki dengan bulu yang sama kuningnya. Awetan burung itu memukau seluruh orang. Saking cantiknya, mereka mengira dia diturunkan langsung dari surga. Bird of paradise, sebut mereka.

Tomé Pires, seorang ahli obat Portugis, mencatat hal ini dalam bukunya Suma Oriental. Catatan ini menjadi bukti pertama perdagangan internasional burung cenderawasih.((Pires, T. 1944. The Suma Oriental of Tomé Piresof 1512-1515. McGill University Library (kontributor). London: The Hakluyt Society, 578 hal. Diakses dari https://archive.org/details/McGillLibrary-136385-182/page/n155/mode/2up pada 15 September 2021.)) Semenjak itu, permintaan bulu burung cenderawasih sebagai bagian dari mode terus meningkat.

Tren ini memuncak pada awal abad ke-20 ketika bulu cenderawasih menjadi busana kaum elit bagi orang Eropa dan Amerika Serikat.((Andaya, L.Y. 2017. “Flights of fancy: The bird of paradise and its cultural impact”. Journal of Southeast Asian Studies. 48(3): 372-389. DOI: https://doi.org/10.1017/S0022463417000546))((Kirsch, S. 2006. “History and the Birds of Paradise. Surprising Connections from New Guinea”. Penn Museum Expedition Magazine. 48(1): 15-21. Diakses dari https://www.penn.museum/sites/expedition/history-and-the-birds-of-paradise/pada 14 September 2021.)) Antara tahun 1905 dan 1920, 30.000 hingga 80.000 burung cenderawasih dibunuh setiap tahunnya untuk memenuhi permintaan pasar. Seluruh usaha untuk menghentikan kepunahan burung ini sia-sia. Namun beruntung, burung cenderawasih selamat karena tren busana bergeser dan permintaan pasar turun.((Andaya, L.Y. 2017. “Flights of fancy: The bird of paradise and its cultural impact”. Journal of Southeast Asian Studies. 48(3): 372-389. DOI: https://doi.org/10.1017/S0022463417000546))

Seratus tahun berselang setelah selamat dari kepunahan, kali ini burung cenderawasih bertemu ancaman baru. Tapi kali ini ancaman itu tidak datang dari negeri-negeri Eropa dan Amerika. Dia kebanyakan hadir dari orang-orang lokal yang tergiur dengan suvenir burung cenderawasih, baik dalam bentuk awetan maupun sebagai hiasan pada mahkota. Tidak sedikit cendera mata yang diselundupkan sebagai barang ilegal.((Tim Pembela Satwa Liar. 2021. “Karantina Pertanian Ternate Gagalkan Penyelundupan Awetan Cenderawasih”. Garda Animalia. Diakses dari https://gardaanimalia.com/karantina-pertanian-ternate-gagalkan-penyelundupan-awetan-cenderawasih/pada 15 September 2021.))((Tubaka, N. 2018. “Polisi Sita Puluhan Cenderawasih Awetan di Kepulauan Aru”. Mongabay. Diakses dari https://www.mongabay.co.id/2018/08/15/polisi-sita-puluhan-cenderawasih-awetan-di-kepulauan-aru/ pada 15 September 2021.))

Yang paling hangat adalah merebaknya isu kalau mahkota cenderawasih akan dijadikan cendera mata pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XX yang dituanrumahi oleh Provinsi Papua pada awal Oktober mendatang.((co. 2021. “Beramai-ramai Tolak Mahkota Burung Cenderawasih sebagai Suvenir PON Papua”. Andryanto, S.D. (ed). Tempo. Diakses dari https://sport.tempo.co/read/1502394/beramai-ramai-tolak-mahkota-burung-cenderawasih-sebagai-suvenir-pon-papua pada 14 September 2021.)) Berbagai pihak secara tegas menolak ide ini. Penolakan berpusat pada kekhawatiran terhadap keberadaan cenderawasih yang sudah semakin langka. Gracia Josaphat Jobel Mambrasar, Duta Pembangunan Berkelanjutan Sustaniable Development Goals (SDGs) Indonesia, serta Tonny Tesar, Bupati Kabupaten Yapen, menyatakan bahwa populasi burung cenderawasih terus menurun dan pemberian hiasan cenderawasih sebagai cendera mata PON merupakan langkah yang tidak bijaksana.((co. 2021. “Beramai-ramai Tolak Mahkota Burung Cenderawasih sebagai Suvenir PON Papua”. Andryanto, S.D. (ed). Tempo. Diakses dari https://sport.tempo.co/read/1502394/beramai-ramai-tolak-mahkota-burung-cenderawasih-sebagai-suvenir-pon-papua pada 14 September 2021.)) Yang biasa dijadikan mahkota dan awetan, dengan bulu coklat dan ekor kuning-putih, adalah burung cenderawasih jenis Paradisaea. Jenis ini mencakup tujuh spesies yang di antaranya meliputi cenderawasih kuning-besar (Paradisaea apoda), cenderawasih kuning-kecil (Paraidsaea minor), dan cenderawasih raggiana (Paradisaea raggiana).((Irestedt, M., Jønsson, K.A., Fjeldså, A., Christidis, L., Ericson, P.G.P. 2009. “An unexpectedly long history of sexual selection in birds-of-paradise”. BMC Evolutionary Biology. 9: 235. DOI: https://dx.doi.org/10.1186%2F1471-2148-9-235))

Dalam IUCN Red List, diketahui bahwa seluruh spesies cenderawasih dalam jenis Paradisaea mengalami penurunan populasi. Tiga di antaranya masih berada dalam status kekhawatiran rendah (least concern), dua berada dalam status hampir terancam (near threatened), dan dua berada dalam status rentan (vulnerable). Status ini sebenarnya tidak memberikan gambaran yang utuh karena jumlah spesies cenderawasih sampai saat ini tidak diketahui secara pasti. Dengan tingginya perburuan, sangat memungkinkan kalau kondisi mereka jauh lebih buruk dibandingkan dengan yang dilaporkan. Pada Peraturan Menteri LHK No. P106 tahun 2018, seluruh spesies cenderawasih yang ada di Indonesia masuk ke dalam daftar hewan diindungi.((Republik Indonesia. 1990. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Jakarta: Sekretariat Negara.))

Sebenarnya sudah terdapat dua aturan pemerintah yang menegaskan bahwa transaksi produk cenderawasih tidak diperbolehkan. Yang pertama adalah UU 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang diuraikan dalam Peraturan Menteri LHK No. P106 tahun 2018. Undang-undang ini menyatakan bahwa setiap orang dilarang untuk menyimpan dan memperniagakan hewan yang dilindungi baik dalam keadaan hidup maupun mati, termasuk cenderawasih di dalamnya. Aturan yang kedua adalah Surat Edaran Nomor 660.1/6501/SET tanggal 5 Juni 2017 oleh Provinsi Papua yang melarang penggunaan burung cenderawasih sebagai aksesoris dan cendera mata.((Suroto, H. 2021. “Kontroversi Mahkota Burung Cenderawasih Jadi Souvenir PON XX Papua”. detikTravel. Diakses dari https://travel.detik.com/travel-news/d-5712450/kontroversi-mahkota-burung-cenderawasih-jadi-souvenir-pon-xx-papua?_ga=2.179060525.841338112.1631610513-1456627288.1630390131pada 14 September 2021.)) Yang diperbolehkan dalam surat edaran ini hanya penggunaan burung cenderawasih asli dalam proses adat istiadat yang bersifat sakral.

Surga Itu Terancam Runtuh pada Sebuah Pekan Olahraga

Mahkota cenderawasih merupakan simbol kebesaran masyarakat adat Papua yang hanya boleh dikenakan oleh seorang tokoh adat wilayah pesisir atau kepala suku wilayah daerah pegunungan pada acara-acara tertentu saja.((Suroto, H. 2021. “Kontroversi Mahkota Burung Cenderawasih Jadi Souvenir PON XX Papua”. detikTravel. Diakses dari https://travel.detik.com/travel-news/d-5712450/kontroversi-mahkota-burung-cenderawasih-jadi-souvenir-pon-xx-papua?_ga=2.179060525.841338112.1631610513-1456627288.1630390131pada 14 September 2021.))((Mayor, R.J. 2021. “’Mahkota Cenderawasih Simbol Kebesara, Jangan Pakai Sembarangan di PON XX Papua’”. Merdeka. Diakses dari https://www.merdeka.com/peristiwa/mahkota-cenderawasih-simbol-kebesaran-jangan-pakai-sembarangan-di-pon-xx-papua.html pada 15 September 2015.)) Dahulu, bulu cenderawasih dipakai oleh prajurit-prajurit Papua sebagai simbol kekebalan. Oleh para wanita, bulu cenderawasih dikenakan sebagai lambang kesuburan.((Andaya, L.Y. 2017. “Flights of fancy: The bird of paradise and its cultural impact”. Journal of Southeast Asian Studies. 48(3): 372-389. DOI: https://doi.org/10.1017/S0022463417000546))

Namun, berawal dari interaksi suku Papua dengan bangsa Eropa, nilai dari seekor cenderawasih bergeser. Bulu burung ini awalnya dipakai sebagai hadiah kepada raja-raja Eropa. Lama kelamaan, dia dipakai sebagai alat tukar dengan barang-barang berharga lainnya. Dewasa ini, cenderawasih justru menjadi sekadar suvenir. Dalam kata-kata Rosaline Rumaseuw, Ketua Umum Cendikiawan Perempuan Papua, “mahkota ini telah hilang nilai budaya diganti dengan nilai ekonomi. Siapa saja dapat membelinya untuk digunakan pada festival-festival budaya.”((co. 2021. “Beramai-ramai Tolak Mahkota Burung Cenderawasih sebagai Suvenir PON Papua”. Andryanto, S.D. (ed). Tempo. Diakses dari https://sport.tempo.co/read/1502394/beramai-ramai-tolak-mahkota-burung-cenderawasih-sebagai-suvenir-pon-papua pada 14 September 2021.))

Jika mahkota cenderawasih benar-benar diberikan sebagai cendera mata, maka pemerintah seakan-akan mengaminkan kata-kata ini. Nilai kultural dan kesakralan dari mahkota cenderawasih akan jatuh hingga akhirnya pakaian ini hanya menjadi mode busana lainnya. Kita akan kembali pada abad di mana bulu cenderawasih sekadar menjadi jambul pada topi-topi bangsawan Eropa. Ironisnya, pemerintahlah yang bergerak sebagai promotor utama.

Lebih daripada itu, pemberian cendera mata akan memperlihatkan ketidakseriusan pemerintah terhadap usaha konservasi spesies yang dilindungi. Dengan menyebarluaskan produk hewan dilindungi, PON, sebuah acara nasional yang digelar oleh pemerintah Indonesia, akan melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri.

Bisa jadi hanya akan ada satu atau dua mahkota yang disematkan selama PON XX berlangsung dan itu tidak mengganggu populasi cenderawasih secara langsung. Namun, ini tidak berarti masalah menjadi selesai. Dengan menampilkan cendera mata cenderawasih walaupun barang satu ekor, pemerintah memberikan lampu hijau kepada calon-calon oknum untuk memburu dan memperjualbelikan burung cenderawasih dengan lebih leluasa. Efek domino dari kegiatan ini seharusnya terlalu kentara untuk tidak dapat dilihat oleh para pemangku kebijakan.

Fakta bahwa beberapa spesies cenderawasih masih pada status kekhawatiran rendah (least concern) dalam daftar IUCN tidak dapat dijadikan alasan. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, rendahnya status burung cenderawasih dalam daftar IUCN lebih merefleksikan lemahnya penelitian cenderawasih ketimbang memperlihatkan populasi asli burung ini di alam liar. Lagipula, sebanyak apapun jumlahnya, hewan endemik seperti cenderawasih akan selalu lebih rentan punah karena mereka tersebar pada wilayah yang sangat terbatas.((Isik, K. 2011. “Rare and endemic species: why are they prone to extinction?”. Turkish Journal of Botany. 35(4): 411-417. DOI: http://dx.doi.org/10.3906/bot-1012-90)) 

Kabar baiknya, Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, menegaskan bahwa mahkota cenderawasih tidak akan diberikan sebagai cendera mata bagi peserta PON XX. Jika memang akan ada, yang akan diberikan adalah mahkota dengan bulu cenderawasih imitasi.((Wally, E. 2021. “Bupati Jayapura: Topi Cenderawasih tidak dikenakan pada tamu PON XX”. Jubi. Diakses dari https://jubi.co.id/papua-bupati-jayapura-topi-cenderawasih-tidak-dikenakan-pada-tamu-pon-xx/pada 15 September 2021.)) Namun, sampai benar-benar bisa dibuktikan bahwa mahkota cenderawasih tidak akan diberikan sebagai cendera mata, masyarakat dan pemerintah perlu tetap melakukan pengawasan agar tidak terjadi pelanggaran yang dapat membahayakan spesies burung cenderawasih manapun.

Ada kepercayaan di kalangan masyarakat adat Papua bahwa ketika sekarat, cenderawasih akan terbang ke arah matahari hingga dia kelelehan dan akhirnya jatuh ke Bumi.((Andaya, L.Y. 2017. “Flights of fancy: The bird of paradise and its cultural impact”. Journal of Southeast Asian Studies. 48(3): 372-389. DOI: https://doi.org/10.1017/S0022463417000546)) Jika kita tidak menghormati burung-burung surga ini, mungkin satu hari kita akan melihat mereka berbondong-bondong pergi ke sana. Sebagian akan mati dan jatuh kembali ke Bumi, sedangkan yang lainnya akan hangus terbakar dalam api. Mereka akan memilih untuk mati bersama-sama secara alami ketimbang dijerat dan dipereteli oleh tangan tamak manusia yang hanya melihat mereka sebagai pelumas gerigi ekonomi.

Surga akan runtuh di hadapan kita dan yang tersisa pada langit Papua hanya warna biru yang pucat pasi.

 

Mahkota Burung Cenderawasih Hanya Untuk Kepala Suku, Bukan Pejabat Pemerintahan

Cenderawasih kuning besar

TRIBUN-PAPUA.COM,JAYAPURA– Kepala Suku Alex Waisimon mengatakan mahkota burung cenderawasih hanya untuk raja atau kepala suku, bukan untuk pejabat pemerintahan

“Saya rasa sudah jelas, bahwa penggunaan Mahkota Burung Cenderawasih hanya untuk raja atau kepala suku, tidak untuk pejabat pemerintahan,” kata Alex kepada Tribun-Papua.com, Selasa (7/9/2021).

Sejak 2017, kata dia, setelah dikeluarkannya surat edaran Gubernur Papua kala itu, Alex mengatakan semua pihak telah berkomitmen, untuk tidak menggunakan Mahkota Burung Cenderawasih asli secara bebas.

“Mahkota Burung Cenderawasih memiliki hal-hal sakral, dan hak adat tidak dapat dipindahkan kepada siapapun, termasuk presiden,”ujarnya.

Secara adat, menurut Alex penggunaan mahkota asli Burung Cenderawasih yang dikenakan, hanya pada saat tertentu oleh raja atau kepala suku.

“Raja atau kepala suku mengenakannya hanya saat upacara adat atau pesta, masyarakat dapat ditunjuk langsung untuk memakainya,”katanya.

Hanya saja setelah upacara ataupun pesta usai, menurut dia, Mahkota Burung Cenderawasih asli tersebut disimpan kembali ke tempat yang aman.

“Kalau ada anak adat yanh kenakan Mahkota Burung Cenderawasih, maka dia tidak paham adat,”ujarnya.

Dalam tatanan adat, perburuan Burung Cenderawasih juga dilarang keras oleh nenek moyang, dan ada sanksi adatnya.

Alex menyampaikan hal itu menyusul polemik terkait penyediaan souvenir ataupun Mahkota Burung Cenderawasih Asli saat PON XX 2021 nanti, yang kini marak dibicarakan.(*)

 

Sumber : tribunnews.com

Ada Penolakan! Soal Mahkota Cenderawasih Jadi Suvenir PON, Burung Sakral di Papua – Bali

Cendrawasih kuning-kecil (Paradisaea minor), salah satu jenis yang paling terkenal. Foto: Dok. WWF Indonesia

JurnalPatroliNews – Jakarta – Masyarakat menolak mahkota cenderawasih menjadi suvenir Pekan Olahraga Nasional atau PON XX di Papua pada Oktober 2021. Burung cenderawasih, termasuk bulunya, memiliki makna yang besar bagi masyarakat Papua dan Bali.

Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto mengatakan burung cenderawasih adalah pesies burung yang hidup di kawasan Indonesia timur, Papua Nugini dan Australia bagian timur. Burung cenderawasih atau dikenal sebagai burung surga ini memiliki bulu yang indah.”Burung cendrawasih di Papua termasuk jenis The Greater bird of paradise (Paradisaea apoda) telah diintroduksi dari Papua Nugini ke Pulau Tobago Kecil di Trinidad dan Tobago di Karibia,” kata Hari Suroto kepada rekan media. “Keluarga burung ini memiliki 42 spesies di 15 genera dan cenderawasih termasuk burung yang soliter.”

Untuk melihat keseharian burung cendrawasih di habitat aslinya, wisatawan bisa datang ke Sentani, Papua. Saat ini terdapat spot paradise bird watching, yaitu hutan di belakang Kampung Abar, Sentani. Untuk sampai ke sana, cukup menempuh perjalanan darat sekitar 20 menit dari Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.

Burung cenderawasih sudah menyatu dengan budaya masyarakat Papua. Di Papua, mahkota dari burung cendrawasih tidak boleh dikenakan oleh sembarang orang. “Hanya tokoh adat seperti ondoafi dan kepala suku saja yang berhak,” kata Hari Suroto yang juga dosen arkeologi Universitas Cenderawasih.

Burung cendrawasih juga punya peran penting dalam budaya masyarakat Bali. Di Bali, burung cenderawasih atau manuk dewata menjadi sarana penting dalam upacara ngaben. Masyarakat Bali percaya burung cenderawasih berperan sebagai pemandu arwah untuk pergi ke alam keabadian.

Dalam sejarahnya, pada abad VIII, utusan Raja Sri Indrawarman dari Kerajaan Sriwijaya pernah mempersembahkan burung cenderawasih kepada Kaisar Cina. “Burung cenderawasih adalah burung yang dilindungi, tidak boleh diburu, dipelihara, dan diperjualbelikan,” kata Hari Suroto.(*/lk)

 

Sumber : jurnalpatrolinews.co.id

Tujuh Fakta Soal Cendrawasih, Si Burung Surga Dari Papua

Potret burung Cendrawasih dengan kawanannya (ceritaorangtimur.wordpress.com)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Siapa tak kenal burung Cendrawasih. Kecantikan tubuhnya menjadi daya tarik utama bagi hewan endemik Pulau Papua itu.

Burung Cendrawasih merupakan anggota famili Paradisaeidae dari ordo Passeriformes. Mereka umumnya ditemukan di Indonesia bagian timur, terutama Selat Torres, Papua Nugini hingga Australia Timur.

Cendrawasih dengan bulu berwarna cantik adalah berkelamin jantan. Selain kecantikannya, ternyata ada beberapa fakta lain soal burung itu yang jarang terungkap.

Mata Indonesia akan mengungkap 7 fakta di antaranya;

1. Beragam Ukuran dan Jenis Burung Cendrawasih
Burung ini memiliki ukuran beragam tergantung spesiesnya. Seperti spesies King Bird of Paradise yang berukuran 15 cm hingga spesies Black Sicklebill yang berukuran hingga 110 cm atau 1 meter dan 10 sentimeter dari kepala hingga ujung ekornya. Jika hanya bagian tubuhnya burung itu hanya sepanjang 63 sentimeter.

Burung ini terdiri dari 14 genus dan 43 spesies. Jenis Cendrawasih yang paling terkenal adalah Kuning Besar atau Paradise Apoda. Karakteristik utama burung ini adalah warna bulunya yang cerah dan menarik perhatian seperti kuning, hijau, merah dan biru.

Cendrawasih biasanya dinamakan sesuai dengan warna dominannya, seperti Cendrawasih Kuning Kecil, Cendrawasih Kuning Besar dan Cendrawasih Merah.

2. Sempat Menjadi Komoditi
Saking cantiknya, burung yang dijuluki birds of paradise oleh orang Inggris justru menjadi incaran manusia. Bahkan pada 1522 selalu menjadi hadiah bagi raja-raja Eropa.

Akhirnya, burung cantik itu menjadi komditas perdagangan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Bulunya sering dicabut untuk topi perempuan Eropa kelas atas.

3. Paling Banyak Hidup di Indonesia
Dari 41 spesies yang tersebar dari Papua Barat dan Provinsi Papua hingga bagian timur Australia, 37 spesies di antaranya hidup di hutan-hutan Provinsi Papua serta Papua Barat. Habitat aslinya di hutan lebat yang berada di dataran rendah.

4. Jadi Terkenal di Negara Barat karena Program Televisi
Cendrawasih pertama kali populer di negara Barat tahun 1996. Popularitas burung itu berkat sebuah tayangan alam liar untuk program televisi yang dipandu penyiar dan pecinta alam David Attenborough.

Saat itu. Attenborough mengambil cuplikan kehidupan Cendrawasih saat sedang dalam perjalanan di Papua Nugini. Dalam video tersebut, ia memperlihatkan kebiasaan makan dan kawin, serta atribut dari spesies Cendrawasih tertentu.

5. Memiliki Ritual Kawin yang Unik
Cendrawasih jantan memiliki bulu yang berwarna cerah dan juga ritual tarian yang dimanfaatkan untuk menarik perhatian betinanya. Tarian Cendrawasih jantan termasuk spektakuler karena menampilkan fleksibilitas bulu dan bentuk badan mereka yang semakin menonjolkan keindahan warna bulunya.

Cendrawasih jantan juga selalu serius dalam mempersiapkan ritual menari ini. Mereka bahkan membersihkan paruh mereka dan lingkungan di sekitar sarangnya untuk menjadi panggung ritual tarian.

Daya tarik Cendrawasih saat kawin ini dapat Kamu lihat ketika berkunjung ke salah satu pulau yang ada di Raja Ampat.

6. Satwa Dilindungi
Karena kecantikannya, Cendrawasih menjadi sasaran perburuan liar. Belum lagi deforestasi untuk mengubah lahan hutan menjadi kebun ikut mengancam habitat mereka.

Hal itu menjadikan Cendrawasih sebagai salah satu satwa yang dilindungi pemerintah. Pemerintah Indonesia telah melindungi Cendrawasih melalui UU No. 5 Tahun 1990 dan PP No. 7 Tahun 1999.

7. Tips Mengamati Burung Cendrawasih
Walaupun termasuk satwa yang dilindungi, kamu masih bisa menikmati kecantikan burung Cendrawasih di alam liarnya. Ada beberapa daerah tujuan wisata di Papua, seperti di daerah Mamberamo Foja, Merauke, Wamena dan Jaya Wijaya yang populasi burung surga itu cukup banyak.

Aada beberapa tips penting yang harus diingat untuk mengamati Cendrawasih, yaitu jangan menggunakan parfum atau mandi sebelum mengamati burung ini. Karena Cendrawasih termasuk burung dengan indera penciuman yang sensitif.

Selain itu, indera pendengaran Cendrawasih juga termasuk tajam jadi jangan membuat suara gaduh ketika Kamu berada di wilayahnya. Kamu juga direkomendasikan untuk bersembunyi di balik pohon dan memakai pakaian berwarna gelap sehingga tidak terlihat burung tersebut.

Itulah beberapa fakta mengenai burung Cendrawasih yang disebut sebagai burung surga karena kecantikan serta keindahanya. Bagaimana ? Apakah kalian penasaran dengan burung cantik ini ? (Reygita Laura)

 

Sumber : minews.id

Mengapa Burung Cenderawasih Menjadi Kebanggaan Rakyat Papua dan Dilestarikan?

Burung Cenderawasih.(https://pesona.travel)

KOMPAS.com – Burung cenderawasih merupakan salah satu burung yang dilindungi dan dilestarikan.

Burung cenderawasih banyak ditemukan di Indonesia bagian timur seperti Papua, pulau-pulau Selat Tores, Papua Nugini, dan Australia Timur.

Ini kenapa Papua dikenal sebagai bumi cenderawasih. Karena banyaknya jenis burung cenderawasih yang ditemukan di sana.

Jelaskan mengapa burung cenderawasih menjadi salah satu sumber alam yang menjadi kebanggaan rakyat Papua dan di lestarikan.

Burung cenderawasih merupakan spesies endemik yang hanya terdapat di pulau Papua, dan memiliki peran penting dalam adat budaya suku-suku di Papua.

Dalam buku Cenderawasih Burung dari Surga (2011) karya Endah H.S, kecantikan burung cenderawasih telah dikenal dunia.

Burung cenderawasih jantan memiliki bulu yang lebih indah untuk memikat cenderawasih betina sebagai pasangannya.

Burung yang menjadi maskot Papua ini memiliki warna bulu yang indah. Karena keindahannya itu burung cenderawasih konon jarang turun ke tanah dan lebih sering terbang hinggap di pohon.

Bulu tersebut tumbuh di area paruh, sayap, dan kepalanya.

Warna bulu tersebut biasanya sangat cerah dengan kombinasi hitam, cokelat kemerahan, oranye, kuning, putih, biru, hijau dan ungu.

Karena kecantikannya itu orang Inggris menyebutnya bird of paradise yang artinya burung dari surga.

Burung cenderawasih hidup di hutan hujan tropis dan dapat ditemukan di Indonesia bagian timur, pulau-pulau Selat Torres, Papua Nugini, dan Australia Timur.

Di habitatnya, buurng cenderawasih memiliki kebiasaan bermain di pagi hari saat matahari terbit.

Identitas rakyat Papua

Burung cenderawasih mati kawat adalah jenis yang menjadi identitas provinsi Papua. Masyarakat di Papua sering menggunakan bulu cenderawasih sebagai pelengkap atau hiasan dalam pakaian adat mereka.

Keberadaan burung cenderawasih kian lama kian terancam. Perburuan dan penangkapan liar serta kerusakan habitat menjadi beberapa penyebab utama.

Banyak bulu cenderawasih diperdagangkan yang digunakan sebagai penghias, seperti topi wanita di Eropa.

Dikutip buku Ekologi Papua (2012) karya Sri Nurani Kartikasari dan kawan-kawan, buurng cenderawasih merupakan salah satu kelompok burung yang paling dikenal di Papua dengan 24 jenis.

bulu burung kadang dalam jumlah besar sering digunakan untuk hiasan dalam upacara-upacara, pernikahan dan ritual.

Kelompok yang paling sering digunakan untuk hiasan adalah burung cenderawasih yang pernah dieksploitasi besar-besaran untuk ekspor.

Penggunaan bulu secara tradisional berdampak pada jenis-jenis yang umumnya populer.

Sekarang, burung cenderawasi menjadi jenis satwa yang dilindungi.

Beberapa jenis cenderawasih yangmasuk dalam daftar dilindungi antara lain, cenderawasih kuning kecil, cenderawasih botak, cenderawasih raja, cenderawasih meran dan toowa.

 

Sumber : kompas.com

Delapan Cenderawasih Kuning Besar Pulang ke Rumah

Merauke, 28 Agustus 2020. Bidang KSDA Wilayah I Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua (BBKSDA Papua) melepasliarkan delapan ekor cenderawasih kuning besar (Paradiseae apoda) betina ke habitat alaminya. Lepas liar berlangsung Jumat, (28/8) pukul 10.00 WIT dengan lokasi di Taman Nasional Wasur, Merauke. Lokasi ini dipilih karena Wasur merupakan habitat alami cenderawasih kuning besar yang masih terjaga dengan baik. Kegiatan ini terlaksana berkat sinergitas yang terjalin antara Balai Besar KSDA Papua, Balai Gakkum LHK Maluku Papua, Balai Taman Nasional Wasur, Kejaksaan Negeri Merauke, dan Polres Merauke. Proses pelepasliaran disaksikan juga oleh perwakilan masyarakat adat, pemerintah kampung setempat, dan tersangka.

Delapan cenderawasih kuning besar betina tersebut merupakan hasil penegakan hukum PPNS pada Balai Gakkum LHK Maluku Papua dan merupakan barang bukti tindak pidana KSDA dengan tersangka NHD, warga Kampung Wenda Asri, Distrik Jagebob, Kabupaten Merauke. Tersangka adalah pemburu dan pengumpul cenderawasih, yang diamankan beserta barang bukti. Dalam konferensi pers bersama yang dilaksanakan di Pusat Informasi Bomi Sai Taman Nasional Wasur, para pihak menyampaikan upaya-upaya perlindungan dan pelestarian satwa liar dilindungi yang telah dilakukan di Merauke dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama melakukan perlindungan dengan tidak melakukan perburuan, pemeliharaan, dan perdagangan. Karena perilaku tersebut dapat mengancam kepunahan jenis-jenis satwa endemik Papua, yang menjadi bagian dari kekayaan keanekaragaman hayati asli tanah Papua.

Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., menyampikan harapannya terkait tumbuhan dan satwa liar (TSL) di Papua. “Semoga peristiwa ini menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat, juga wawasan tentang satwa liar dilindungi. Menangkap, memelihara, ataupun memperdagangkan cenderawasih kuning besar adalah tindakan ilegal. Harapan saya, masyarakat semakin memahami hal ini, demi kelestarian satwa endemik Papua di masa mendatang.”

Sebelum pelepasliaran, delapan cenderawasih kuning besar tersebut dirawat dan diperiksa kesehatannya. Perawatan dilakukan secara bersama antara Balai Gakkum LHK Maluku Papua, Bidang KSDA Wilayah I Merauke BBKSDA Papua, dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke. Cenderawasih kuning besar merupakan satwa liar dilindungi berdasarkan Permen LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi. []

Sumber : ksdae.menlhk.go.id