Skip to main content

Kolaborasi TSE Group–IPB Teliti Satwa Endemik Papua

Foto: Peneliti IPB University melakukan pemantauan keanekaragaman hayati di kawasan konservasi TSE Group, Papua Selatan, untuk mendukung upaya pelestarian satwa endemik Papua

MERAUKE – Kolaborasi pelestarian keanekaragaman hayati Papua antara IPB University dan Tunas Sawa Erma (TSE) Group terus berlanjut melalui program Papua Conservation. Penelitian yang telah memasuki tahun kelima ini dilaksanakan di area konservasi sekitar wilayah perusahaan, termasuk kawasan High Conservation Value (HCV) dan High Carbon Stock (HCS) yang berada di area operasional PT TSE Group di Papua Selatan.

Kawasan-kawasan tersebut menjadi habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna khas Papua, terutama cenderawasih kuning besar (Paradisaea apoda) dan kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta).

“Kami meyakini bahwa upaya konservasi yang efektif harus didukung oleh data dan kajian ilmiah. Melalui kolaborasi dengan IPB University, kami berharap dapat memperkaya pemahaman mengenai keanekaragaman hayati Papua sekaligus memperkuat pengelolaan kawasan konservasi yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan,” ujar Luwy Leunufna, Direktur TSE Group pada Jumat (8/7/2026).

Kegiatan penelitian berlangsung di periode penting dalam siklus kehidupan berbagai jenis burung. Pada perode tersebut, banyak spesies mulai bersiap memasuki musim migrasi untuk menyambut musim berbiak.

Untuk itu, selama total 40 hari, tim peneliti dari IPB University kembali melakukan kajian terhadap perilaku lek pada Cenderawasih Kuning Besar. Lek merupakan aktivitas khas yang dilakukan oleh burung jantan untuk memikat sang betina dengan melakukan tarian.

Selain meneliti burung cenderawasih, tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Ani Mardiastuti dan Dr. Ir. Yeni Aryati Mulyani, M.Sc., bersama enam peneliti lainnya, juga akan melanjutkan kajian terhadap kura-kura moncong babi. Pada penelitian kali ini, fokus kajian diarahkan pada perilaku reproduksi satwa endemik Papua yang memiliki nilai konservasi tinggi tersebut.

Dalam pelaksanaannya, peneliti akan memasang sangkar pemantauan pada habitat kura-kura moncong babi dan melakukan pengamatan secara intensif terhadap proses reproduksi, mulai dari perkawinan, bertelur, hingga penetasan. Pengamatan ini direncanakan berlangsung selama kurang lebih 90 hari untuk memperoleh data yang komprehensif.

Sebagai bagian dari pendekatan konservasi, tim peneliti juga akan melakukan wawancara dengan masyarakat setempat dan memasang perangkat Global Positioning System (GPS) guna mempelajari pola pergerakan dan aktivitas kura-kura moncong babi di perairan. Data yang diperoleh diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai wilayah jelajah, preferensi habitat, serta pola perilaku harian satwa tersebut di alam liar.

Memasuki tahun kelima kerja sama Papua Conservation, kolaborasi IPB University-TSE Group menjadi bukti bahwa sinergi antara dunia akademik dan sektor swasta dapat berkontribusi dalam menjaga kekayaan biodiversitas Papua bagi generasi mendatang. Melalui penelitian yang berkelanjutan ini, kedua pihak berharap dapat menghasilkan data ilmiah yang semakin kuat untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi dan perlindungan satwa liar. (PR)

Mengenal Cenderawasih Kuning-Besar dan Perbandingannya dengan Jenis Lain

Papua bukan hanya kaya akan hutan dan budaya, tapi juga rumah bagi salah satu burung paling ikonik di dunia, yaitu cenderawasih. Dari 43 jenis cenderawasih yang ada, 38 di antaranya bisa ditemukan di Indonesia timur. Burung ini terkenal karena bulunya yang indah dan mencolok, sampai-sampai dijuluki “burung dari surga”. Di antara banyak jenisnya, ada satu yang paling menonjol yaitu Cenderawasih Kuning-Besar (Paradisaea apoda).

Morfologi: Penampilan yang Membuatnya Ikonik

Burung Cendrawasih Raja (©Nigel V)

Burung cenderawasih kuning-besar memiliki karakteristik yang sangat mencolok, terutama pada burung jantannya. Ukurannya bisa mencapai 43 cm, belum termasuk sepasang bulu ekor panjang yang menjuntai bak pita emas di udara. Bagian kepalanya dihiasi mahkota kuning,  tenggorokan berkilau hijau zamrud, dada cokelat gelap, dan bulu hias kuning keemasan. Sebaliknya, sang betina justru tampil lebih sederhana. Tubuhnya lebih kecil, sekitar 35 cm, dengan bulu cokelat marun polos tanpa aksesori mencolok. Tapi justru kesederhanaan itu yang membuat panggung jadi seimbang. Keindahan bulu jantan yang luar biasa ini menjadi senjata utama dalam menarik perhatian betina.

Burung Cendrawasih Raja (©Nigel V)

Sebagai perbandingan, cenderawasih raja (Cicinnurus regius) jauh lebih mungil, hanya sekitar 16 cm. Namun ukurannya kecil tak mengurangi pesonanya. Jantan berwarna merah terang dengan dada putih, tenggorokan hijau zamrud, kaki biru mencolok, serta ekor spiral unik. Ditambah bulu mirip kipas di pundak, burung mungil ini tampak seperti permata hidup saat menari.

Perilaku: Tarian Kawin yang Eksotis

Perilaku kawin cenderawasih kuning-besar merupakan salah satu tontonan alam yang paling menawan di hutan Papua. Burung jantan menampilkan tarian khas di dahan tinggi, sambil memamerkan bulu kuning keemasannya yang menjuntai dan bernyanyi dengan suara khas. Menariknya, sebelum pertunjukan dimulai, jantan akan membersihkan dahan tempat berpijak sehingga tubuhnya tampak lebih kontras. Atraksi ini berlangsung di sebuah arena yang disebut lek, di mana beberapa jantan berkumpul dan bersaing menunjukkan penampilan terbaiknya demi menarik perhatian betina.

Bidadari Halmahera (©JJ Harrison)

Setiap jenis cenderawasih ternyata punya gaya tari kawin yang berbeda-beda. Jika cenderawasih kuning-besar menari di tajuk pohon tinggi, lain halnya dengan Bidadari Halmahera (Semioptera wallacii) dari Halmahera. Spesies ini punya atraksi khas dengan membuka bulu bahu mirip kipas sambil melompat-lompat di cabang bawah hutan. Variasi tarian ini menunjukkan betapa kayanya perilaku kawin keluarga cenderawasih, sekaligus menegaskan perannya sebagai simbol megahnya keanekaragaman hayati Papua.

Persebaran yang Terbatas

Cenderawasih kuning-besar (Paradisaea apoda) ternyata punya wilayah sebaran yang cukup terbatas dibandingkan dengan beberapa jenis cenderawasih lainnya. Burung surga ini hanya bisa ditemui di hutan dataran rendah bagian selatan dan barat daya Papua, hingga  kawasan perbukitan tengah Papua Nugini. Uniknya, mereka juga hidup di Pulau Aru, Maluku Tenggara, menjadikannya salah satu spesies endemik yang benar-benar khas di kawasan timur  Indonesia.

Burung Cendrawasih Paruh-Sabit (©Phil Chaon)

Setiap spesies cenderawasih memiliki pola sebaran yang unik. Ada yang mampu beradaptasi di banyak wilayah, ada pula yang sangat terbatas hanya di satu pulau. Misalnya, cenderawasih raja (Cicinnurus regius) memiliki persebaran cukup luas di bagian selatan dan barat Papua hingga Pulau Aru. Spesies ini juga relatif fleksibel karena bisa ditemukan di hutan dataran rendah maupun hutan sekunder.

Sebaliknya, cenderawasih panji (Semioptera wallacii) adalah contoh endemisme yang ekstrem. Burung ini hanya ditemukan di Pulau Halmahera, Maluku Utara, sehingga keberadaannya benar-benar khas daerah tersebut. Ada pula cenderawasih paruh-sabit (Drepanornis sp.) yang menghuni kawasan pegunungan tengah Papua. Spesies ini memiliki adaptasi khusus terhadap lingkungan montana yang lebih dingin dan lembap.

Perbedaan pola sebaran ini menunjukkan betapa beragamnya cara setiap spesies beradaptasi dengan habitatnya. Dari dataran rendah, pegunungan, hingga pulau-pulau kecil, cenderawasih benar-benar mencerminkan kekayaan ekologi dan sejarah evolusi di Papua dan wilayah timur Indonesia.

Inisiatif Konservasi TSE Group di Wilayah Asiki

Hutan di wilayah pengelolaan TSE Group di Asiki, Papua Selatan, ternyata menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa. Kawasan ini bukan hanya sekadar hutan tropis biasa, tetapi juga rumah bagi banyak satwa endemik dan dilindungi. Pada tahun 2021, TSE Group bersama Tropical Forest Foundation melakukan survei untuk menilai Nilai Konservasi Tinggi (NKT) di area konsesi mereka. Hasilnya cukup mengejutkan, tercatat 13 jenis mamalia, 61 jenis burung, dan 23 jenis herpetofauna (amfibi dan reptil) hidup di dalamnya. Temuan ini menegaskan betapa pentingnya kawasan tersebut sebagai habitat alami yang menopang keberagaman satwa khas Papua

Jaringan Air, Jantung Ekosistem

Kawasan konsesi TSE Group di Papua Selatan memiliki bentang alam yang unik. Lanskapnya memanjang dari utara ke selatan, dengan tiga sungai besar yang mengalir melewati hampir seluruh wilayah, ditambah satu sungai di timur laut yang bermuara pada sebuah danau alami. Jaringan air ini bukan hanya mempercantik lanskap, tapi juga menjadi sumber kehidupan yang menjaga pasokan air tetap stabil sepanjang tahun. Air yang melimpah membuat vegetasi hutan di kawasan ini tumbuh subur, menciptakan lingkungan hijau yang lebat dan kaya sumber pakan. Kombinasi antara bentuk lanskap, ketersediaan air, dan tutupan hutan yang rapat menjadikan area ini sebagai habitat ideal bagi beragam satwa liar

Hutan di wilayah pengelolaan TSE Group termasuk dalam ekosistem besar yang membentang dari Sungai Uwim Merah, Sungai Muyu, hingga Sungai Fly. Secara administratif, kawasan ini berada di Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. Tipe hutannya tergolong hutan hujan tropis dataran rendah yang tumbuh di lahan kering. Di dalamnya, berdiri beragam jenis pohon dengan struktur vegetasi yang kaya dan kompleks, menciptakan lanskap hijau yang menjadi rumah bagi banyak spesies satwa liar.

Komitmen Nyata untuk Menjaga Burung Surga

TSE Group berupaya menunjukkan bahwa bisnis dan konservasi bisa berjalan beriringan. Perusahaan secara aktif mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam praktik pengelolaan hutan, termasuk perlindungan terhadap spesies kunci seperti Cendrawasih Kuning Besar (Paradisaea apoda).  Upaya ini dilakukan dengan melibatkan lembaga penelitian serta masyarakat lokal, sehingga pengelolaan hutan tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem untuk jangka panjang.

Sebagai langkah awal dalam mendukung konservasi, Tim Konservasi Papua melakukan penelitian untuk memahami lebih dalam keberadaan Cenderawasih Kuning Besar di areal kerja perusahaan. Tim Konservasi Papua berhasil memetakan habitat, memperkirakan jumlah populasi, hingga mencatat jenis pohon dan kondisi hutan yang menjadi favorit burung surga ini. Yang paling menarik, tim memberi perhatian khusus pada “pohon lek” arena panggung bagi burung jantan saat menari dan menjadi kunci penting dalam siklus hidupnya. Temuan-temuan ini nantinya akan menjadi dasar penting agar hutan tetap dikelola secara berkelanjutan sekaligus memberi ruang aman bagi satwa endemik Papua yang luar biasa ini.

Menara Pengamat : dari Riset hingga Edukasi

Sebagai bagian dari langkah nyata konservasi, pada November 2022 perusahaan membangun sebuah menara pengamat setinggi 20 meter (empat lantai) di kawasan hutan. Menara ini ditempatkan tepat di dekat pohon yang sudah dikenal sebagai lokasi lek—arena menari burung jantan Cenderawasih Kuning Besar untuk memikat pasangan. Dari menara ini, peneliti dapat mengamati perilaku burung surga dengan lebih leluasa tanpa harus mengganggu aktivitas alaminya. Selain menjadi pusat penelitian, menara ini juga membuka peluang baru untuk pendidikan lingkungan dan bahkan ekowisata berbasis konservasi di masa depan.

Dari Data Menjadi Aksi: Menjaga Populasi Cendrawasih

Burung cendrawasih kuning-besar (Paradisaea apoda) memang layak disebut bintang hutan Papua. Bulu emasnya yang berkilau dan tarian lekking yang anggun selalu berhasil mencuri perhatian. Tapi keindahan saja tidak cukup untuk menjamin mereka tetap ada di alam. Kita juga perlu tahu berapa banyak populasi mereka yang tersisa?. Jawaban tersebut hanya bisa kita dapat lewat penelitian di lapangan. Setiap kali peneliti mencatat perjumpaan burung surga, kita selangkah lebih dekat untuk memahami cara terbaik menjaga mereka tetap menari di hutan Papua.

Menghitung Jejak di Hutan dan Sungai

Dalam sebuah penelitian bersama TSE Group dan IPB University, tim peneliti menjelajah hutan Papua hingga ke tepi sungainya untuk mencari jejak cendrawasih kuning-besar. Hasilnya cukup menarik: dari 39 titik perjumpaan, tercatat 56 ekor burung surga ini—11 jantan dan 45 betina. Mereka tampak betah hidup di berbagai tipe habitat, mulai dari hutan primer, hutan sekunder, sampai semak belukar.

Yang lebih menarik, jumlahnya ternyata berbeda antarwilayah. Di konsesi PT Inocin Abadi ditemukan 37 ekor, lebih banyak dibandingkan PT Tunas Timber Lestari yang hanya 15 ekor. Bahkan, di tepi Sungai Kao dan Sungai Muyu masih terlihat 4 ekor, menandakan sungai bukan sekadar jalur air, tapi juga jalur penting kehidupan bagi cendrawasih.

Suara yang Terdengar, Sosok yang Tersembunyi

Uniknya, tak semua perjumpaan berupa pengamatan langsung. Di beberapa lokasi, peneliti hanya mendengar suara khas cendrawasih kuning-besar tanpa melihat sosoknya. Ini menunjukkan betapa cerdiknya burung ini bersembunyi di balik rimbun tajuk hutan. Meski begitu, suara lantang jantan yang memanggil betina dari pohon lek menjadi tanda kuat kehadiran mereka.

Waktu aktivitas juga jadi temuan penting. Burung cendrawasih kuning-besar aktif sejak pagi sekitar pukul 07.00 hingga sore pukul 17.00, dengan puncak aktivitas pada siang hingga sore hari. Pola ini membantu peneliti menentukan kapan waktu terbaik untuk melakukan pengamatan.

Rasio Jantan dan Betina yang Tidak Seimbang

Salah satu temuan yang cukup mencolok ada pada perbandingan jumlah jantan dan betina. Dalam penelitian pertama, rasio tercatat timpang—hanya 1 jantan untuk 4,1 betina. Ada banyak kemungkinan penyebabnya. Bisa jadi memang secara alami populasi jantan lebih sedikit. Tapi ada juga dugaan kuat bahwa perburuan liar yang membidik jantan berbulu indah ikut mengurangi jumlah mereka di alam.

Menariknya, hasil penelitian di tahun berikutnya justru berbeda. Karena dilakukan saat musim kawin, jumlah jantan yang teramati lebih banyak, yaitu 60 jantan dan 40 betina (rasio 1:0,6). Hal ini sanagat masuk akal, sebab di musim kawin para jantan biasanya tampil habis-habisan di pohon lek untuk memikat betina. Temuan ini jadi pengingat penting bahwa waktu penelitian bisa sangat memengaruhi gambaran populasi di lapangan.

Hidup dalam Kelompok Kecil

Pengamatan di lapangan juga memberi gambaran menarik soal cara hidup cendrawasih kuning-besar. Burung betina biasanya terlihat terbang rame-rame dalam kelompok kecil berisi 3–5 ekor. Sebaliknya, para jantan lebih sering tampil sendiri. Pola ini ternyata pas dengan perilaku lekking mereka—para jantan sibuk menjaga “panggung” pohon lek masing-masing, sementara betina datang bergerombol layaknya penonton yang siap menyaksikan pertunjukan.

Dari Data Jadi Aksi: Menjaga Tarian Abadi Cenderawasih

Mencatat jumlah dan sebaran burung surga bukan cuma urusan angka. Data ini jadi kompas penting untuk tahu apa yang harus dilakukan demi menyelamatkan mereka. Kalau jantan makin sedikit, kita tahu ada alarm bahaya. Kalau ada wilayah dengan banyak perjumpaan, artinya kawasan itu layak diprioritaskan untuk dijaga lebih ketat.

Hasil penelitian soal cendrawasih kuning-besar jelas menunjukkan bahwa mereka masih ada, tapi tantangannya nyata. Rasio kelamin timpang, perburuan, sampai tekanan habitat jadi ancaman serius. Kabar baiknya, justru dari data inilah harapan lahir. Dengan melibatkan masyarakat lokal, menjaga hutan, dan membuka peluang lewat ekowisata, kita bisa memastikan burung surga tetap bebas menari di pepohonan Papua. Bukan sekadar cerita, tapi bagian nyata dari kekayaan Indonesia yang patut dibanggakan.