Skip to main content
Blog

Dari Data Menjadi Aksi: Menjaga Populasi Cendrawasih

Burung cendrawasih kuning-besar (Paradisaea apoda) memang layak disebut bintang hutan Papua. Bulu emasnya yang berkilau dan tarian lekking yang anggun selalu berhasil mencuri perhatian. Tapi keindahan saja tidak cukup untuk menjamin mereka tetap ada di alam. Kita juga perlu tahu berapa banyak populasi mereka yang tersisa?. Jawaban tersebut hanya bisa kita dapat lewat penelitian di lapangan. Setiap kali peneliti mencatat perjumpaan burung surga, kita selangkah lebih dekat untuk memahami cara terbaik menjaga mereka tetap menari di hutan Papua.

Menghitung Jejak di Hutan dan Sungai

Dalam sebuah penelitian bersama TSE Group dan IPB University, tim peneliti menjelajah hutan Papua hingga ke tepi sungainya untuk mencari jejak cendrawasih kuning-besar. Hasilnya cukup menarik: dari 39 titik perjumpaan, tercatat 56 ekor burung surga ini—11 jantan dan 45 betina. Mereka tampak betah hidup di berbagai tipe habitat, mulai dari hutan primer, hutan sekunder, sampai semak belukar.

Yang lebih menarik, jumlahnya ternyata berbeda antarwilayah. Di konsesi PT Inocin Abadi ditemukan 37 ekor, lebih banyak dibandingkan PT Tunas Timber Lestari yang hanya 15 ekor. Bahkan, di tepi Sungai Kao dan Sungai Muyu masih terlihat 4 ekor, menandakan sungai bukan sekadar jalur air, tapi juga jalur penting kehidupan bagi cendrawasih.

Suara yang Terdengar, Sosok yang Tersembunyi

Uniknya, tak semua perjumpaan berupa pengamatan langsung. Di beberapa lokasi, peneliti hanya mendengar suara khas cendrawasih kuning-besar tanpa melihat sosoknya. Ini menunjukkan betapa cerdiknya burung ini bersembunyi di balik rimbun tajuk hutan. Meski begitu, suara lantang jantan yang memanggil betina dari pohon lek menjadi tanda kuat kehadiran mereka.

Waktu aktivitas juga jadi temuan penting. Burung cendrawasih kuning-besar aktif sejak pagi sekitar pukul 07.00 hingga sore pukul 17.00, dengan puncak aktivitas pada siang hingga sore hari. Pola ini membantu peneliti menentukan kapan waktu terbaik untuk melakukan pengamatan.

Rasio Jantan dan Betina yang Tidak Seimbang

Salah satu temuan yang cukup mencolok ada pada perbandingan jumlah jantan dan betina. Dalam penelitian pertama, rasio tercatat timpang—hanya 1 jantan untuk 4,1 betina. Ada banyak kemungkinan penyebabnya. Bisa jadi memang secara alami populasi jantan lebih sedikit. Tapi ada juga dugaan kuat bahwa perburuan liar yang membidik jantan berbulu indah ikut mengurangi jumlah mereka di alam.

Menariknya, hasil penelitian di tahun berikutnya justru berbeda. Karena dilakukan saat musim kawin, jumlah jantan yang teramati lebih banyak, yaitu 60 jantan dan 40 betina (rasio 1:0,6). Hal ini sanagat masuk akal, sebab di musim kawin para jantan biasanya tampil habis-habisan di pohon lek untuk memikat betina. Temuan ini jadi pengingat penting bahwa waktu penelitian bisa sangat memengaruhi gambaran populasi di lapangan.

Hidup dalam Kelompok Kecil

Pengamatan di lapangan juga memberi gambaran menarik soal cara hidup cendrawasih kuning-besar. Burung betina biasanya terlihat terbang rame-rame dalam kelompok kecil berisi 3–5 ekor. Sebaliknya, para jantan lebih sering tampil sendiri. Pola ini ternyata pas dengan perilaku lekking mereka—para jantan sibuk menjaga “panggung” pohon lek masing-masing, sementara betina datang bergerombol layaknya penonton yang siap menyaksikan pertunjukan.

Dari Data Jadi Aksi: Menjaga Tarian Abadi Cenderawasih

Mencatat jumlah dan sebaran burung surga bukan cuma urusan angka. Data ini jadi kompas penting untuk tahu apa yang harus dilakukan demi menyelamatkan mereka. Kalau jantan makin sedikit, kita tahu ada alarm bahaya. Kalau ada wilayah dengan banyak perjumpaan, artinya kawasan itu layak diprioritaskan untuk dijaga lebih ketat.

Hasil penelitian soal cendrawasih kuning-besar jelas menunjukkan bahwa mereka masih ada, tapi tantangannya nyata. Rasio kelamin timpang, perburuan, sampai tekanan habitat jadi ancaman serius. Kabar baiknya, justru dari data inilah harapan lahir. Dengan melibatkan masyarakat lokal, menjaga hutan, dan membuka peluang lewat ekowisata, kita bisa memastikan burung surga tetap bebas menari di pepohonan Papua. Bukan sekadar cerita, tapi bagian nyata dari kekayaan Indonesia yang patut dibanggakan.