Skip to main content
Blog

Pemanfaatan Kura Kura Moncong Babi: Dari Tradisi hingga Perdagangan

Di antara berbagai jenis kura-kura air tawar, kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) merupakan spesies yang istimewa karena hanya dapat ditemukan di Papua dan sebagian Australia Utara. Bentuk hidungnya yang menyerupai moncong babi serta kakinya yang mirip sirip menjadikannya berbeda dari kura-kura lain. Namun keunikan tersebut bukan hanya menarik perhatian peneliti, tetapi juga manusia yang memanfaatkannya sebagai hewan peliharaan, bahan konsumsi, hingga komoditas perdagangan. Tingginya pemanfaatan inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor utama terancamnya kelestarian spesies langka ini.

Jejak Panjang dalam Tradisi

Bagi masyarakat asli di selatan Papua, kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) bukanlah satwa biasa. Sejak lama, hewan unik ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Daging dan telurnya dimanfaatkan sebagai sumber protein penting, sementara dalam tradisi adat, kura-kura ini bahkan pernah dijadikan mas kawin di wilayah Sungai Vriendschap. Pemanfaatan yang bersifat tradisional biasanya dilakukan secara subsisten, artinya hanya diambil secukupnya untuk kebutuhan keluarga. Karena itu, pengaruhnya terhadap populasi di alam masih relatif kecil.

Ketika Pasar Mulai Masuk

Namun, situasi mulai berubah ketika permintaan pasar peningkat. Telur dan tukik (anak kura-kura) tak lagi sekadar sumber pangan, melainkan berubah menjadi komoditas bernilai tinggi. Salah satu kisah yang masih diingat masyarakat Sungai Kao terjadi pada 1997, saat seorang pembeli asing datang dengan helikopter khusus untuk membeli telur dalam jumlah besar. Sejak peristiwa itu, telur kura-kura moncong babi mulai dianggap sebagai “uang yang berjalan”, simbol pergeseran dari kebutuhan subsisten menjadi peluang ekonomi.

Dari Konsumsi ke Komoditas

Perlahan, peran kura-kura ini bergeser. Bagi masyarakat, telur lebih bernilai ekonomi dibanding sekadar bahan konsumsi. Para pemburu pun lebih memilih menjual telur, sementara daging kura-kura dewasa biasanya hanya dikonsumsi sendiri. Aktivitas mencari sarang dan memanen telur kemudian berubah menjadi mata pencaharian utama. Dengan berangkat pagi menggunakan perahu, masyarakat bisa pulang membawa hasil yang nilainya cukup menjanjikan—sering kali dianggap lebih pasti dibanding pekerjaan lain seperti berkebun atau menangkap ikan.

.

Tukik Jadi Andalan

Seiring waktu, pasar mulai lebih menyukai tukik dibanding telur. Tukik lebih tahan dibawa dalam perjalanan jauh, sedangkan telur mudah rusak. Akibatnya, masyarakat mulai menetaskan telur sebelum dijual, karena tukik bisa dijual dengan harga lebih tinggi. Praktik ini pun semakin diminati, sekaligus mempercepat pemanfaatan kura-kura moncong babi secara intensif.

Ancaman di Balik Manfaat

Bagi masyarakat lokal, kura-kura moncong babi jelas memberi manfaat ekonomi. Namun, pemanfaatan yang berlebihan dan terus-menerus, ditambah tingginya ketergantungan pada sumber daya alam serta minimnya alternatif penghasilan, membuat populasinya kian terancam. Tanpa tindakan yang tepat, satwa langka ini bisa saja hanya tersisa dalam cerita dan kenangan.

Jalan Menuju Konservasi

Kura-kura moncong babi bukan sekadar satwa langka—mereka adalah penjaga ekosistem sungai di Papua. Dengan sebaran yang terbatas dan status dilindungi, upaya konservasi menjadi sangat penting. Kita bisa ikut menjaga mereka dengan beberapa cara: melindungi habitat dari kerusakan, mengatur pemanfaatan agar tidak berlebihan, memberi alternatif penghasilan bagi masyarakat lokal, serta menyebarkan kesadaran tentang pentingnya spesies ini. Tanpa langkah nyata, kura-kura unik ini bisa hilang dari alam liar. Menyelamatkannya bukan hanya soal menjaga satu jenis satwa, tapi juga mempertahankan keseimbangan sungai dan kehidupan yang bergantung padanya.