Skip to main content
Blog

Inisiatif Konservasi TSE Group di Wilayah Asiki

Hutan di wilayah pengelolaan TSE Group di Asiki, Papua Selatan, ternyata menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa. Kawasan ini bukan hanya sekadar hutan tropis biasa, tetapi juga rumah bagi banyak satwa endemik dan dilindungi. Pada tahun 2021, TSE Group bersama Tropical Forest Foundation melakukan survei untuk menilai Nilai Konservasi Tinggi (NKT) di area konsesi mereka. Hasilnya cukup mengejutkan, tercatat 13 jenis mamalia, 61 jenis burung, dan 23 jenis herpetofauna (amfibi dan reptil) hidup di dalamnya. Temuan ini menegaskan betapa pentingnya kawasan tersebut sebagai habitat alami yang menopang keberagaman satwa khas Papua

Jaringan Air, Jantung Ekosistem

Kawasan konsesi TSE Group di Papua Selatan memiliki bentang alam yang unik. Lanskapnya memanjang dari utara ke selatan, dengan tiga sungai besar yang mengalir melewati hampir seluruh wilayah, ditambah satu sungai di timur laut yang bermuara pada sebuah danau alami. Jaringan air ini bukan hanya mempercantik lanskap, tapi juga menjadi sumber kehidupan yang menjaga pasokan air tetap stabil sepanjang tahun. Air yang melimpah membuat vegetasi hutan di kawasan ini tumbuh subur, menciptakan lingkungan hijau yang lebat dan kaya sumber pakan. Kombinasi antara bentuk lanskap, ketersediaan air, dan tutupan hutan yang rapat menjadikan area ini sebagai habitat ideal bagi beragam satwa liar

Hutan di wilayah pengelolaan TSE Group termasuk dalam ekosistem besar yang membentang dari Sungai Uwim Merah, Sungai Muyu, hingga Sungai Fly. Secara administratif, kawasan ini berada di Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan. Tipe hutannya tergolong hutan hujan tropis dataran rendah yang tumbuh di lahan kering. Di dalamnya, berdiri beragam jenis pohon dengan struktur vegetasi yang kaya dan kompleks, menciptakan lanskap hijau yang menjadi rumah bagi banyak spesies satwa liar.

Komitmen Nyata untuk Menjaga Burung Surga

TSE Group berupaya menunjukkan bahwa bisnis dan konservasi bisa berjalan beriringan. Perusahaan secara aktif mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam praktik pengelolaan hutan, termasuk perlindungan terhadap spesies kunci seperti Cendrawasih Kuning Besar (Paradisaea apoda).  Upaya ini dilakukan dengan melibatkan lembaga penelitian serta masyarakat lokal, sehingga pengelolaan hutan tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem untuk jangka panjang.

Sebagai langkah awal dalam mendukung konservasi, Tim Konservasi Papua melakukan penelitian untuk memahami lebih dalam keberadaan Cenderawasih Kuning Besar di areal kerja perusahaan. Tim Konservasi Papua berhasil memetakan habitat, memperkirakan jumlah populasi, hingga mencatat jenis pohon dan kondisi hutan yang menjadi favorit burung surga ini. Yang paling menarik, tim memberi perhatian khusus pada “pohon lek” arena panggung bagi burung jantan saat menari dan menjadi kunci penting dalam siklus hidupnya. Temuan-temuan ini nantinya akan menjadi dasar penting agar hutan tetap dikelola secara berkelanjutan sekaligus memberi ruang aman bagi satwa endemik Papua yang luar biasa ini.

Menara Pengamat : dari Riset hingga Edukasi

Sebagai bagian dari langkah nyata konservasi, pada November 2022 perusahaan membangun sebuah menara pengamat setinggi 20 meter (empat lantai) di kawasan hutan. Menara ini ditempatkan tepat di dekat pohon yang sudah dikenal sebagai lokasi lek—arena menari burung jantan Cenderawasih Kuning Besar untuk memikat pasangan. Dari menara ini, peneliti dapat mengamati perilaku burung surga dengan lebih leluasa tanpa harus mengganggu aktivitas alaminya. Selain menjadi pusat penelitian, menara ini juga membuka peluang baru untuk pendidikan lingkungan dan bahkan ekowisata berbasis konservasi di masa depan.