Setiap musim kemarau Sungai Kao menyimpan rutinitas yang menarik bagi warga lokal. Saat air surut, gumuk pasir bermunculan di tepi sungai dan menjadi lokasi favorit kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) untuk bertelur. Inilah yang kemudian dianggap sebagai waktu “musim panen” oleh masyarakat. Bagi mereka, sarang-sarang di pasir itu bukan sekadar bagian dari siklus alam, melainkan sumber penghasilan penting yang bernilai ekonomi tinggi.
Modal dan Keterampilan di Balik Pemanenan

Memanen telur kura-kura moncong babi ternyata bukan sekadar menggali pasir. Aktivitas ini butuh modal cukup besar—terutama untuk bahan bakar perahu—serta keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Biasanya, para pemburu sudah berangkat sejak pagi, menyusuri tepian sungai sambil menenteng tongkat besi atau kayu dengan ujung khusus untuk menusuk pasir. Dengan alat sederhana itu, mereka bisa menemukan sarang yang tersembunyi rapi di bawah permukaan.

Sarang yang ditemukan bisa langsung digali atau ditandai dengan tongkat kecil. Jika jumlah sarang banyak, penandaan dilakukan agar bisa diambil kemudian. Telur yang terkumpul biasanya ditempatkan dalam ember, dengan pasir di bagian bawah dan atas sebagai pelindung agar tetap aman selama perjalanan. Teknik ini sederhana, tetapi efektif menjaga telur tetap utuh hingga sampai ke bivak atau ke tangan penadah.
Musim Panen di Gumuk Pasir

Musim bertelur kura-kura moncong babi berlangsung dari Agustus hingga Desember, dengan puncaknya di bulan September. Pada periode ini, pemburu biasanya tinggal di lokasi peneluran selama berbulan-bulan. Mereka membangun pondok sederhana dari kayu dan daun kelapa sebagai tempat tinggal sementara, lengkap dengan bak penetasan yang jadi “ruang tunggu” bagi telur sebelum dijual.
Setiap pagi, gumuk pasir kembali disisir untuk mencari sarang baru. Sayangnya, pemanenan dilakukan tanpa pandang bulu. Sarang yang sehat, tergenang banjir, bahkan yang sudah dirusak predator tetap diambil telurnya. Akibatnya, hampir tidak ada sarang yang tersisa alami di tepi sungai. Tingkat pengambilan pun mencapai 100 persen—angka yang sangat tinggi dan tentu mengkhawatirkan bagi kelestarian spesies ini.
Antara Adat dan Ancaman
Di balik praktik pemanenan telur, aturan adat tetap punya peran penting. Setiap orang hanya boleh mengambil di wilayah ulayat dengan izin yang jelas, dan hasilnya dibagi sesuai aturan tradisional. Kalau melanggar, misalnya mencuri telur di luar area, sanksi adat siap menanti. Sistem ini menjadi cara masyarakat menjaga hak kelola sumber daya mereka.

Meski begitu, intensitas panen yang tinggi tetap memunculkan dilema. Bukan hanya telur yang dibawa pulang, sesekali induk betina juga ikut ditangkap. Biasanya saat pagi buta, ketika sang induk masih kelelahan setelah bertelur, atau sore hari ketika mereka muncul di tepi pasir. Induk yang tertangkap tidak dijual, melainkan dimasak bersama di bivak sebagai bekal hidup para pemburu yang berminggu-minggu menetap jauh dari rumah.
Jalan Tengah: Ekonomi dan Konservasi
Jika semua telur diambil setiap musim, hampir tidak ada generasi baru kura-kura moncong babi yang bisa bertahan di alam. Apalagi ditambah dengan penangkapan induk betina, populasinya jelas terancam menyusut drastis. Dari sudut pandang ekologi, ini sinyal bahaya: tanpa regenerasi, spesies unik ini bisa perlahan hilang dari habitat aslinya.
Inilah dilema klasik: kebutuhan ekonomi masyarakat berhadapan langsung dengan tantangan konservasi. Bagi warga lokal, telur kura-kura adalah sumber penghasilan penting, bahkan jadi mata pencaharian utama. Tapi di sisi lain, panen yang terlalu intensif jelas mengancam keberlangsungan spesies.
Solusinya bukan sekadar melarang, melainkan mencari jalan tengah. Edukasi tentang pentingnya menyisakan sebagian sarang, menghentikan penangkapan induk betina, hingga menciptakan sumber pendapatan alternatif bisa jadi langkah kunci. Jika dikelola dengan bijak, pengetahuan dan keterampilan para pemburu justru bisa berubah menjadi modal besar untuk mendukung konservasi. Dengan begitu, keseimbangan antara ekonomi masyarakat dan kelestarian alam tetap bisa terjaga.
