Skip to main content

Kura-kura Hidung Babi

(WTVC) Chattanooga — “Kami sedang mengamati kura-kura hidung babi, mereka juga disebut kura-kura sungai. Mereka adalah spesies yang sangat aneh dari Nugini dan ujung utara Australia,” kata Bill Hughes, seorang herpetologis di Akuarium Tennessee.

Hughes mengatakan mereka adalah makhluk peralihan, menggambarkan mereka sebagai “calon penyu laut.” Mereka berada dalam satu keluarga yang berdiri sendiri dan tidak ada makhluk lain yang berkerabat dekat dengan mereka.

“Mereka sepenuhnya akuatik dan agak mirip penyu laut. Mereka memiliki kaki dayung. Kaki belakang mereka adalah dayung dan mereka jarang keluar dari air,” kata Hughes.

Selain sirip, kura-kura hidung babi juga memiliki hidung yang sangat aneh.

“Mereka disebut kura-kura hidung babi karena alasan yang jelas, mereka memiliki hidung babi seperti snorkel,” kata Hughes.

Bahkan Hughes tidak sepenuhnya yakin dengan tujuan pasti hidung tersebut, tetapi hidung tersebut membantu mereka bernapas tanpa harus keluar dari air.

Kura-kura omnivora berhidung babi ini tumbuh menjadi cukup besar, tetapi sangat lambat. Mereka membutuhkan waktu hampir 20 tahun untuk mencapai ukuran penuh, yaitu 40 pon dan panjang 3 kaki.

Kura-kura betina bertelur di gundukan pasir selama musim kemarau dan bayi-bayinya akan tetap berada di dalam telur hingga air mencapai mereka. Air memicu penetasan. Untuk informasi lebih lanjut tentang kura-kura berhidung babi dari Akuarium Tennessee, klik di sini.

 

Sumber: newschannel9.com

KKP Tangkap 3.230 Upaya Penyelundupan Kura-kura Hidung Babi

Kura-kura hidung babi (carettochelys insculpta). wasserschildkroete.de

TEMPO.CO, Jakarta – Setelah menggagalkan upaya penyelundupan 15 ton ikan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Pos Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Timika dan Kepolisian Resor Timika kembali menggagalkan upaya penyelundupan kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta).

“Kami mengamankan 3.230 ekor kura-kura moncong babi yang dikemas dalam 190 kotak plastik dari upaya penyelundupan,” kata Kepala Stasiun PSDKP Tual Asep Supriyadi dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 17 Februari 2016.

Petugas Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Perikanan (BKIPM) serta aparat keamanan Bandara Mosek Kilangin Timika menemukan barang bukti empat koper hitam yang digunakan untuk membawa kotak plastik berisi kura-kura tersebut.

Modus operandinya adalah dengan memasukkan koper tersebut melalui pintu masuk bandara lama yang tidak dilengkapi dengan alat sinar-X. Penyu-penyu tersebut rencananya akan dikirim menggunakan Sriwijaya Air ke Jayapura sebelum menuju Jakarta.

Saat ini, barang bukti yang ditemukan petugas telah diserahkan ke Departemen Keanekaragaman Hayati dan Lingkungan Hidup PT Freeport untuk dirawat sebelum dilepasliarkan.

Penyu hidung babi dilindungi dan dilarang untuk ditangkap. Penyu tersebut merupakan spesies endemik dan terancam punah yang hanya hidup di Papua. Penyu tersebut juga tercantum dalam Lampiran 2 Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Flora dan Fauna Liar yang Terancam Punah (CITES).

 

Sumber : tempo.co