Skip to main content
Berita

Kolaborasi TSE Group–IPB Teliti Satwa Endemik Papua

By Juli 8, 2026Agustus 12th, 2026No Comments

Foto: Peneliti IPB University melakukan pemantauan keanekaragaman hayati di kawasan konservasi TSE Group, Papua Selatan, untuk mendukung upaya pelestarian satwa endemik Papua

MERAUKE – Kolaborasi pelestarian keanekaragaman hayati Papua antara IPB University dan Tunas Sawa Erma (TSE) Group terus berlanjut melalui program Papua Conservation. Penelitian yang telah memasuki tahun kelima ini dilaksanakan di area konservasi sekitar wilayah perusahaan, termasuk kawasan High Conservation Value (HCV) dan High Carbon Stock (HCS) yang berada di area operasional PT TSE Group di Papua Selatan.

Kawasan-kawasan tersebut menjadi habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna khas Papua, terutama cenderawasih kuning besar (Paradisaea apoda) dan kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta).

“Kami meyakini bahwa upaya konservasi yang efektif harus didukung oleh data dan kajian ilmiah. Melalui kolaborasi dengan IPB University, kami berharap dapat memperkaya pemahaman mengenai keanekaragaman hayati Papua sekaligus memperkuat pengelolaan kawasan konservasi yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan,” ujar Luwy Leunufna, Direktur TSE Group pada Jumat (8/7/2026).

Kegiatan penelitian berlangsung di periode penting dalam siklus kehidupan berbagai jenis burung. Pada perode tersebut, banyak spesies mulai bersiap memasuki musim migrasi untuk menyambut musim berbiak.

Untuk itu, selama total 40 hari, tim peneliti dari IPB University kembali melakukan kajian terhadap perilaku lek pada Cenderawasih Kuning Besar. Lek merupakan aktivitas khas yang dilakukan oleh burung jantan untuk memikat sang betina dengan melakukan tarian.

Selain meneliti burung cenderawasih, tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Ani Mardiastuti dan Dr. Ir. Yeni Aryati Mulyani, M.Sc., bersama enam peneliti lainnya, juga akan melanjutkan kajian terhadap kura-kura moncong babi. Pada penelitian kali ini, fokus kajian diarahkan pada perilaku reproduksi satwa endemik Papua yang memiliki nilai konservasi tinggi tersebut.

Dalam pelaksanaannya, peneliti akan memasang sangkar pemantauan pada habitat kura-kura moncong babi dan melakukan pengamatan secara intensif terhadap proses reproduksi, mulai dari perkawinan, bertelur, hingga penetasan. Pengamatan ini direncanakan berlangsung selama kurang lebih 90 hari untuk memperoleh data yang komprehensif.

Sebagai bagian dari pendekatan konservasi, tim peneliti juga akan melakukan wawancara dengan masyarakat setempat dan memasang perangkat Global Positioning System (GPS) guna mempelajari pola pergerakan dan aktivitas kura-kura moncong babi di perairan. Data yang diperoleh diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai wilayah jelajah, preferensi habitat, serta pola perilaku harian satwa tersebut di alam liar.

Memasuki tahun kelima kerja sama Papua Conservation, kolaborasi IPB University-TSE Group menjadi bukti bahwa sinergi antara dunia akademik dan sektor swasta dapat berkontribusi dalam menjaga kekayaan biodiversitas Papua bagi generasi mendatang. Melalui penelitian yang berkelanjutan ini, kedua pihak berharap dapat menghasilkan data ilmiah yang semakin kuat untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi dan perlindungan satwa liar. (PR)