Skip to main content
Blog

Tarian di Tajuk Hutan: Memahami Perilaku Lekking

By Februari 19, 2026No Comments

Salah satu hal paling memikat dari burung Cenderawasih Kuning-Besar (Paradisaea apoda) adalah kebiasaan unik mereka saat mencari pasangan. Burung jantan tidak sekadar berkicau atau memamerkan bulu indah, melainkan melakukan “pertunjukan” yang disebut lekking, sebuah ritual kawin spektakuler yang menjadi ajang adu pesona di tengah hutan Papua.

Lekking merupakan strategi kawin yang unik, di mana para jantan berkumpul di satu lokasi khusus yang disebut lekking site. Di tempat ini, mereka bergiliran menari, mengibaskan bulu indah berwarna cerah, hingga mengeluarkan suara khas yang berulang-ulang. Semua “pertunjukan” ini punya satu tujuan sederhana, yaitu memikat hati betina dan mendapatkan kesempatan untuk menjadi pasangannya.

Panggung Audisi di Hutan Papua

Bagi cenderawasih kuning-besar, lekking ibarat “panggung audisi” di tengah hutan. Para jantan berlomba-lomba menari, mengepakkan bulu emasnya, dan bersuara lantang demi memikat hati betina. Hanya yang paling memukau yang akan terpilih, sementara yang lain harus mencoba lagi esok hari. Setelah kawin singkat, betina pergi membesarkan anaknya seorang diri, sedangkan sang jantan kembali ke pohon lek, siap mengulang pertunjukan berikutnya, sebuah siklus alami yang memperlihatkan betapa seleksi seksual bekerja menakjubkan di alam liar.

Pertunjukan di Musim Kemarau

Setiap pagi, sebelum matahari terlalu tinggi, burung jantan Cenderawasih Kuning-Besar akan memilih pohon tertinggi di sekitar lekking site sebagai “panggung utama”. Dari ketinggian itu, tarian, bulu hias yang berkilau, dan suara panggilan khas bisa terlihat dan terdengar lebih jelas, baik oleh betina maupun jantan pesaing. Menariknya, ritual lekking ini biasanya berlangsung pada musim kemarau, antara Juni hingga Oktober. Saat hutan lebih kering dan udara jernih, suara mereka dapat menjangkau lebih jauh, membuat pertunjukan di alam terbuka ini semakin memikat.

Dominasi Jantan di Puncak Musim Lekking

Hasil pengamatan pada musim lekking menunjukkan bahwa jumlah burung jantan jauh lebih dominan. Hal ini diduga karena pengamatan dilakukan saat puncak musim berbiak, ketika para jantan lebih aktif menampilkan diri. Di pohon-pohon lek, para jantan sibuk memamerkan tarian khas, mengibaskan bulu hias berwarna cerah, hingga melantunkan vokalisasi keras untuk menarik perhatian betina sekaligus menyingkirkan pesaing. Sesekali, beberapa betina terlihat datang ke lokasi lekking, mengamati dengan cermat dan menilai jantan mana yang paling layak dipilih.

Ritual Merapikan Arena Lekking

Selama musim lekking, penelitian menemukan ada delapan pohon lek yang aktif digunakan cendrawasih kuning besar. Yang menarik, di bawah pohon-pohon itu banyak sekali ranting dan daun berserakan. Rupanya, burung jantan sengaja “merapikan panggungnya” dengan membersihkan area sekitar lek. Dengan begitu, bulu hias mereka bisa terlihat jelas saat menari di bawah sorotan cahaya alami hutan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Stein dan Uy (2006), yang menyebutkan bahwa burung lekking memang kerap merapikan arena pertunjukan demi tampil lebih memikat di hadapan betina.

Lekking, Hutan, dan Masa Depan Cenderawasih

Perilaku lekking Cenderawasih Kuning-Besar memperlihatkan betapa eratnya keterkaitan antara keindahan, reproduksi, dan kelestarian habitat. Ritual kawin yang kompleks ini hanya bisa berlangsung di hutan yang masih utuh, dengan pohon-pohon tinggi sebagai panggung alaminya. Menjaga hutan Papua berarti menjaga ruang hidup cenderawasih sekaligus memastikan salah satu pertunjukan alam paling menakjubkan ini tetap berlangsung untuk generasi mendatang.