
Burung Cendrawasih yang teramati bertengger di dahan pohon
Cendrawasih Kuning Besar terkenal dengan bulunya yang indah dan tarian kawinnya yang memukau. Namun, di balik pesona itu ada ancaman serius. Bagi burung ini, keindahan justru bisa jadi kutukan. Populasinya kini terus tertekan oleh tiga bahaya utama: perburuan liar, rusaknya hutan tempat mereka hidup, dan dampak perubahan iklim. Jika ancaman ini tak segera diatasi, burung ikonik Papua ini bisa kehilangan panggung alaminya.
Perburuan: Ancaman di Balik Keindahan Cendrawasih
Salah satu ancaman terbesar bagi cendrawasih kuning-besar adalah perburuan liar. Bulu kuning keemasan yang indah justru membuat burung jantan jadi incaran utama. Padahal, spesies ini sudah dilindungi undang-undang Indonesia. Sayangnya, praktik perburuan masih saja terjadi di sejumlah wilayah Papua, terutama saat musim kawin antara Mei hingga Agustus.
Menurut data BirdLife International (2016), cendrawasih kuning-besar masih masuk kategori Risiko Rendah di Daftar Merah IUCN. Sekilas terdengar aman, tapi kenyataannya populasi di alam justru terus menurun karena tekanan perburuan. Penurunan ini bisa berdampak serius, sebab burung jantan memegang peran penting dalam lekking—pertunjukan kawin yang menentukan apakah generasi baru akan lahir atau tidak.

Pohon emergent yang tersisa menjadi tempat lekking
Habitat Tergerus, Tarian Surga Terancam
Selain perburuan, ancaman besar lainnya datang dari hilangnya rumah alami cendrawasih kuning besar. Hutan-hutan primer Papua terus menyusut akibat pembangunan dan alih fungsi lahan. Pohon-pohon tinggi yang dulu jadi panggung utama tarian kawin kini makin sulit ditemukan, membuat burung surga ini kehilangan tempat terbaik untuk berkembang biak. Dampaknya bukan hanya mengganggu tarian kawin, tapi juga menurunkan keberhasilan reproduksi. Fragmentasi hutan membuat populasi terpisah-pisah, sehingga keragaman genetik ikut terancam. Ditambah lagi, berkurangnya tutupan hutan berarti semakin sedikit pula pohon pakan yang bisa menopang kehidupan burung surga ini.
Ancaman Senyap dari Perubahan Iklim
Perubahan iklim jadi ancaman yang tak terlihat, tapi dampaknya nyata bagi cendrawasih kuning besar. Pergeseran musim hujan dan kemarau membuat jadwal kawin mereka jadi berantakan. Akibatnya, sering kali musim kawin tidak lagi pas dengan melimpahnya pakan, sehingga piyik kesulitan mendapat makanan. Bukan hanya itu, suhu yang semakin panas, hujan yang tak menentu, dan badai yang semakin sering dapat mengubah wajah hutan Papua. Jika hal ini terus terjadi, bukan hanya tempat mereka menari yang hilang, tetapi juga masa depan burung surga ini.
Langkah Bersama untuk Hutan dan Cendrawasih
Melindungi cendrawasih kuning besar tidak cukup hanya dengan aturan di atas kertas. Kuncinya ada pada keterlibatan banyak pihak—mulai dari masyarakat lokal hingga pengelola hutan. Edukasi tentang pentingnya konservasi, pengembangan ekowisata berbasis burung hingga riset lapangan untuk memantau populasi, semuanya perlu berjalan beriringan. Menjaga pohon-pohon tempat mereka menari berarti menjaga hutan Papua dan kehidupan di dalamnya. Selama cendrawasih masih menari di antara pepohonan, keseimbangan alam pun tetap terjaga.
