
Hutan papua sebagai salah satu hutan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia didalamnya menjadi tempat salah satu spesies burung yang begitu memikat — Cenderawasih Kuning Besar (Paradisaea apoda). Burung ini termasuk anggota keluarga besar Paradiseaeidae, yang dikenal dunia karena keindahannya.
Keindahan Bulunya Menjadi Ancaman
Cenderawasih Kuning Besar memiliki keistimewaan tersendiri, bulu kuning keemasan yang berkilau saat terkena sinar matahari terlihat seperti makhluk dari dunia lain. Tidak heran jika burung ini sering disebut sebagai “penari surga.” Burung cantik ini hanya bisa ditemukan di tanah Papua, sebuah harta karun hidup yang tidak dimiliki tempat lain di dunia.
Sejak lama, bulu cendrawasih diburu untuk hiasan dan perdagangan ilegal. Ditambah lagi, perusakan habitat akibat penebangan hutan membuat ruang hidup mereka semakin menyempit. Padahal, hilangnya burung ini bukan hanya kehilangan satu spesies, tetapi juga mengganggu keseimbangan ekosistem di sekitarnya.
Pengamatan Lebih Mendalam
Sejak 2022 para peneliti dari IPB University dan TSE Group melakukan kajian terkait Cendrawasih Kuning Besar. Kami memulai dengan pencarian habitat, menghitung jumlah individu, hingga mencatat perilaku unik saat musim kawin—yang dikenal dengan istilah tarian lekking.

Hasil Penelitian
Pengamatan beberapa tahun ini ditemukan jenis yang sangat menarik, dari hutan konsesi milik PT Inocin Abadi, para peneliti menemukan 27 ekor cenderawasih kuning besar—10 jantan dengan bulu mencolok, dan 17 betina yang setia mengamati tarian mereka. Sementara, di areal PT Tunas Timber Lestari, tercatat ada 15 ekor betina yang hidup di sana.
Selain jumlah individu, peneliti juga menemukan pohon lek—tempat para cenderawasih jantan melakukan “pertunjukan tari” untuk menarik hati betina. Di areal PT Inocin Abadi, ditemukan 2 pohon lek, sementara di PT Tunas Timber Lestari ada 6 pohon lek. Pohon-pohon ini bukan sembarang pohon; umumnya berasal dari jenis jambuan, matoa, kelat, hingga medang. Meski diameternya tak terlalu besar (sekitar 33–70 cm), pohon-pohon ini menjulang lebih tinggi daripada pepohonan lain di sekitarnya.

Syzygium sp. Tree as the Lek Site of the Greater Bird-of-paradise
Menariknya, pohon lek hampir selalu berupa pohon emergent—pohon yang menjulang lebih tinggi dari kanopi sekitarnya. Dari ketinggian ini, burung jantan bisa lebih mudah memamerkan tariannya sekaligus memanggil betina dengan suara lantang. Musim lekking biasanya berlangsung antara Juli hingga September, dengan puncak pada bulan Agustus. Saat itu, hutan Papua seakan berubah menjadi panggung alami. Para jantan menari, melompat, dan mengepakkan sayap keemasan mereka, sementara para betina dengan teliti memilih pasangan terbaik. Sebuah drama alam yang hanya bisa disaksikan di hutan-hutan Papua.
Berfungsi sebagai “Indikator Kesehatan Hutan”.
Jika cenderawasih masih menari di suatu kawasan berarti ekosistem di sana masih terjaga: kelestariannya. Pohon-pohon besar masih berdiri, rantai makanan masih berjalan, dan iklim mikro di dalam hutan tetap stabil. Kehilangannya bukan hanya hilangnya satu spesies cantik, tetapi juga sinyal kerusakan yang lebih besar bagi seluruh ekosistem.
Melestarikan cenderawasih kuning besar berarti melestarikan kehidupan hutan Papua secara keseluruhan. Pohon-pohon tinggi tempat mereka menari, satwa lain yang hidup di sekitarnya, hingga tanah yang menopang itu semua saling terhubung. Upaya konservasi tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus melihat hutan sebagai sebuah kesatuan hidup.
Dengan pendekatan terpadu—antara ilmu pengetahuan, konservasi, dan keterlibatan masyarakat—cenderawasih kuning besar bisa terus menari di hutan Papua. Mereka akan tetap menjadi “permata hidup” yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga menjadi simbol harapan bagi kelestarian hutan dan generasi mendatang.
