Skip to main content

Pionir Sejarawan Ilmu Pengetahuan dan Penjelajah Burung Cenderawasih Kuning Besar

Alfred Russel Wallace

Perintis Seleksi Alam dan Biogeografi

Alfred Russel Wallace, sering kali dibayangi oleh Charles Darwin, adalah seorang ilmuwan perintis yang karyanya membentuk pemahaman tentang evolusi dan keanekaragaman hayati. Berikut gambaran singkat kontribusi utamanya:

Ditahun 1858, saat berada di Kepulauan Melayu, Wallace mengirimkan Charles Darwin sebuah makalah teori evolusi melalui seleksi alam. Hal ini menjadi pendorong keduanya menerbitkan ‘’Surat Wallace-Darwin’’. Yang memperkenalkan ide tersebut kepada dunia. Penemuan independen Wallace menyoroti pentingnya ekologi dalam memahami evolusi.

Ditahun 1859, Wallace mengusulkan ‘’garis wallacea’’, garis imajiner memisahkan wilayah fauna yang berada di Asia Tenggara dan Australia. Garis ini melintasi Kepulauan Melayu, antara Kalimantan dan Sulawesi, serta antara Bali (di barat) dan Lombok (di timur). Garis ini mengungkapkan bagaimana geografi mempengaruhi distribusi spesies Konsep ini menjadi landasan bio-geografi, yang menunjukkan keanekaragaman hayati unik di wilayah tersebut.

Ilustrasi peta garis wallacea dari rimbakita.com

Eksplorasi Wallace selama delapan tahun di kepulauan Melayu mencapai puncak dalam bukunya yang terbit pada tahun 1869, The Malay Archipelago: The Land of the Orangutan and The Birds Paradise, Ia mendokumentasikan hubungan antara spesies dan lingkungannya, memberikan wawasan utama tentang bagaimana ekologi membentuk evolusi. Karyanya juga mengisyaratkan keberadaan daratan kuno yang tenggelam, menghubungkan distribusi spesies dengan sejarah geologi bumi.

Mengungkap Rahasia Burung Cenderawasih: Warisan Wallace dalam Konservasi

Alfred Russel Wallace, naturalis perintis yang eksplorasinya di Kepulauan Melayu mengungkap keajaiban keanekaragaman hayati Asia Tenggara. Dari hutan lebat Kalimantan hingga pulau – pulau terpencil di Papua Nugini, karya Wallace tidak hanya memajukan ilmu pengetahuan alam tetapi juga menyoroti kebutuhan mendesak akan konservasi terutama untuk burung cenderawasih yang ikonik.

Mitos Burung Cenderawasih

Pada Abad ke-18 dan ke-19, burung cenderawasih memikat imajinasi orang Eropa. Bulunya yang memukau melambangkan kemewahan, kekayaan, dan status, menghiasi topi, gaun, dan pakaian formal. Namun, Wallace mengungkapkan kebenaran yang nyata: ketertarikan Eropa dibangun di atas mitos dan kesalahpahaman.

Melalui perjalanannya (Malaya, Pulau Nicobar, Filipina, Kepulauan Solomon, di luar Papua Nugini), Wallace memperkenalkan dunia pada habitat burung yang sebenarnya – hutan aslinya di Papua dan kepulauan Aru. Ia membantah kisah romantis tentang burung yang terbang abadi, menekankan peran ekologisnya dan kebutuhan untuk melindungi keberadaannya yang rapuh.

Burung Cenderawasih Kuning Besar bertengger di ranting pohon.

Sisi Gelap Perdagangan Bulu

Pengamatan Wallace mengungkap dampak buruk dari perdagangan burung liar. Permintaan Eropa terhadap bulu mendorong eksploitasi yang tidak terkendali dengan pemburu lokal memanen burung secara berlebihan untuk memenuhi pasar luar negeri. Wallace mencatat kurangnya peraturan dan dampak negatif yang ditimbulkan terhadap populasi burung.

Wallace menyoroti ironi: sementara orang Eropa mengagumi keindahan burung tersebut, mereka tidak megetahui kehidupan burung tersebut di alam liar. Burung cenderawasih menjadi simbol kemewahan, tetapi dengan mengorbankan kelangsungan hidupnya.

Seruan Wallace untuk Konservasi

Karya Wallace lebih dari sekadar penemuan – Karyanya merupakan seruan untuk bertindak. Ia mendokumentasikan pentingnya ekologis burung cenderawasih dan memperingatkan tentang bahaya eksploitasi yang tidak terkendali. Wawasannya menjadi dasar bagi upaya konservasi modern, mengingatkan kita tentang keseimbangan rumit antara keinginan manusia dan kebutuhan alam.

Saat ini, warisan Wallace ‘’cenderawasih sebagai Pemegang Dunia’’ tetap hidup sering terus berusaha melindungi burung cenderawasih dan habitatnya. Perjalanannya melalui The Malay Archipelago tidak hanya membantah mitos tetapi juga menginspirasi pemahaman lebih dalam dunia alami kita.

TSE Group Dukung Konservasi Kura-kura Moncong Babi di Wilayah Boven Digoel

Tunas Sawa Erma (TSE) Group bersama sejumlah stakeholder berpartisipasi dalam acara pelepasliaran tukik kura-kura mocong babi di Sungai Kao, Kampung Kalikao, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel. (Istimewa)

CEPOSONLINE.COM, BOVEN DIGOEL – Tunas Sawa Erma (TSE) Group sebuah industri perkebunan dan pengelolaan kelapa sawit di wilayah Papua Selatan ikut berpasrtisipasi dalam acara pelepasliaran tukik kura-kura mocong babi di Sungai Kao, Kampung Kalikao, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel pada, Jumat (10/01).

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya konservasi yang dilakukan oleh komunitas Kinggo Kambenap, sebuah komunitas masyarakat lokal yang dibentuk sejak tahu 2007 dan berkomitmen untuk melestarikan habitat asli di wilayah mereka.

Kegiatan saat itu, dihadiri oleh sejumlah stakeholder seperti pihak pemerintah, kepolisian, swasta hingga akademisi serta Komunitas Kinggo Kambenap yang bersama-sama melakukan pelepasliaran tukik birip dalam bahasa lokal atau bayi kura-kura moncong babi di sungai Kao. Dalam beberapa bulan terakhir komunitas Kinggo Kambenap telah melakukan pengumpulan dan pemeliharaan telur kura-kura moncong babi, dan setelah menetas akan dilepaskan ke sungai. Hal ini bertujuan untuk melindungi habitat satwa liar endemik di sekitar kali Kao terutama kura-kura moncong babi, agar generasi mendatang tetap bisa melihat satwa yang mulai langkah tersebut.

“Kami sangat mendukung upaya konservasi yang dilakukan oleh komunitas Kinggo Kambenap. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen kami untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mendukung masyarakat lokal dalam melestarikan habitat asli mereka,” ujar Bani Susilo Djokroadji perwakilan perusahaan

Dalam keterangannya, Bani Susilo menambahkan bahwa selama ini pihak perusahaan juga melakukan kerja sama dengan pihak Universitas IPB (Institut Pertanian Bogor) dalam upaya pelestarian Carrettochelys insculpta atau kura-kura moncong babi di kali Kao dan Kali Muyu yang berada di Kabupaten Boven Digoel.

Dalam kerja sama ini pihak perusahaan memfasilitasi segala kebutuhan yang diperlukan oleh tim peneliti dari Universitas IPB dalam melakukan penelitan terhadap fauna air tawar tersebut.

Dengan adanya kegiatan ini dan upaya yang telah dilakukan oleh pihak perusahaan dalam mendukung upaya konservasi alam disekitar area operasionalnya, diharapkan populasi kura-kura mocong babi bahkan satwa langkah lainnya dapat terus terjaga dan habitat aslinya tetap lestari.

TSE berkomitmen untuk terus mendukung upaya konservasi dan program-program lingkungan lainnya secara berkelanjutan di masa mendatang. (*)

Sumber: www.ceposonline.com