Skip to main content

Kura-kura Hidung Babi Selundupan Berangkat ke Indonesia Setelah Delapan Bulan Dirawat di KFBG

Kura-kura hidung babi diklasifikasikan sebagai Rentan dalam Daftar Merah IUCN karena eksploitasi populasi liar yang serius dan tidak berkelanjutan.

(HONG KONG, 24 Agustus 2018) Pada bulan Januari tahun ini, 658 Kura-kura Hidung Babi yang diselundupkan dari Indonesia ke Hong Kong disita oleh petugas Bea Cukai Hong Kong. Kura-kura tersebut dikirim ke Pusat Penyelamatan Satwa Liar KFBG untuk perawatan sementara. Hari ini, 596 kura-kura telah memulai perjalanan panjang kembali ke rumah asli mereka di Papua Barat, Indonesia, sebuah proyek repatriasi yang melibatkan kerja sama antara KFBG, AFCD, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, dan International Animal Rescue (IAR) Indonesia.

Penyitaan dan kedatangan di Pusat Penyelamatan Satwa Liar KFBG

Pada tanggal 12 Januari, Kura-kura Hidung Babi (Carettochelys insculpta) dicegat di Bandara Internasional Hong Kong dan disita oleh Bea Cukai Hong Kong. Semua kura-kura tersebut dikemas dalam bagasi terdaftar penyelundup dalam penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta, Indonesia ke Hong Kong SAR. Nilai pasar gelap dari 658 ekor kura-kura hidung babi diperkirakan mencapai HK$526.400.

Pelaku kemudian didenda HK$20.000 oleh pengadilan. Pusat Penyelamatan Satwa Liar KFBG menerima kura-kura tersebut dan menilai kondisi kesehatan mereka. Untungnya, sebagian besar masih hidup meskipun beberapa dalam kondisi buruk akibat kondisi transportasi yang buruk. Biaya yang dikeluarkan oleh KFBG cukup besar untuk merawat hewan-hewan tersebut selama delapan bulan.

Proses pemulangan

KFBG dan Pemerintah HKSAR telah bekerja sama erat dalam proyek pemulangan tersebut. Kasus ini merupakan pemulangan ketiga bagi kura-kura hidung babi ke Indonesia. Kerja sama antara Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, AFCD, dan International Animal Rescue (IAR) Indonesia mengikuti jalur yang sama dengan pemindahan yang dilakukan pada tahun 2011, ketika lebih dari 600 ekor kura-kura berhasil dipulangkan dan dilepaskan di Sungai Maro yang berdekatan dengan Desa Bupul di Papua, Indonesia.

Mengikuti protokol yang sama seperti kasus sebelumnya, kura-kura tersebut dikemas dengan hati-hati dalam kotak plastik yang disiapkan khusus berisi air dan berlubang udara, semua kotak kemudian ditempatkan dalam peti kayu pengangkut. Pengangkutan hewan hidup melalui udara diatur oleh Peraturan Hewan Hidup Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) dan dilakukan dengan cermat untuk mematuhi peraturan tersebut secara ketat. KFBG menanggung sebagian besar biaya untuk tindakan pemulangan yang penting ini, sementara AFCD, IAR, The Wildlife Conservation Society (WCS) dan Kebun Binatang Toronto dengan baik hati memberikan kontribusi untuk pendanaan.

Perjalanan panjang kembali ke alam liar baru saja dimulai, dan bersama-sama para mitra dalam tindakan terpuji ini berharap bahwa semua kura-kura yang meninggalkan Hong Kong akan dilepaskan di Papua Barat dalam beberapa hari mendatang. Staf spesialis dari KFBG telah bergabung dalam perjalanan panjang melalui udara dan darat menuju lokasi pelepasan di bagian terpencil Papua Barat dan akan melaporkan tahap akhir perjalanan tersebut.

Nasib Kura-kura Hidung Babi

Kura-kura Hidung Babi, juga dikenal sebagai Kura-kura Fly-River, hampir seluruhnya hidup di air. Penampilan mereka yang tidak biasa dan kebiasaan akuatik mereka telah membuat mereka populer sebagai hewan peliharaan eksotis dan ini telah mengakibatkan perdagangan ilegal besar-besaran yang tidak berkelanjutan dan menyebabkan penurunan populasi kura-kura air tawar liar.

Setiap tahun betina bermigrasi ke tepi sungai berpasir untuk bertelur. Telur dipanen untuk makanan, dan tukik dikumpulkan oleh pedagang ilegal untuk perdagangan hewan peliharaan global. Para penjahat mendapat keuntungan besar dengan mengorbankan penderitaan banyak kura-kura, yang dijejalkan ke dalam peti atau kotak kecil selama proses perdagangan ilegal. Penting bagi sistem peradilan di Hong Kong untuk mengakui kekejaman dan nilai tinggi yang diperoleh para pedagang dari kejahatan satwa liar seperti kasus penyelundupan ini; dan tingginya biaya perawatan dan pemulangan.

Spesies ini diklasifikasikan sebagai Rentan (VN) pada Daftar Merah Spesies Terancam Punah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Kura-kura Hidung Babi tercantum dalam Lampiran II Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah (CITES) pada tahun 2005, yang mengakui kerentanan spesies tersebut.

Namun, terkadang kita dapat menemukan Kura-kura Hidung Babi muda yang dijual di Hong Kong. Selain ilegal untuk dimiliki, spesies ini tidak cocok sebagai hewan peliharaan karena memerlukan fasilitas perairan yang sangat besar saat mencapai ukuran dewasa penuh.

Apa yang dapat Anda lakukan

Saat ini, hilangnya habitat, pengumpulan yang tidak berkelanjutan untuk makanan, pengobatan tradisional, dan perdagangan satwa liar merupakan ancaman global utama yang dihadapi oleh banyak kura-kura liar dan satwa liar lainnya. Anda dapat membantu menyelamatkan hewan yang terancam punah ini dengan tidak membeli satwa liar hidup, dan tidak mengonsumsi atau membeli produk satwa liar. Anda juga harus melaporkan dugaan aktivitas ilegal yang melibatkan satwa liar kepada Polisi.

Beberapa penyu muda kini kembali ke daerah asal mereka di Indonesia.

 

Sekelompok besar kura-kura segera setelah disita di Hong Kong sedang direhidrasi di Pusat Penyelamatan Hewan Liar KFBG.

 

Kura-kura tersebut ditempatkan dengan hati-hati dalam kotak plastik berlubang udara dan diberi air.

 

Sumber : kfbg.org

Siapa Duga Burung Cendrawasih, Burung Surga, Hanya Ada Di Papua

Burung Cendrawasih merupakan burung yang menjadi ikon Papua, dikenal karena kecantikan bulunya yang luar biasa.

Ia bahkan dijuluki bird of paradise atau burung dari surga, mungkin karena kecantikan yang dimilikinya ini seolah-olah tidak ‘membumi’.

Namun sayangnya populasi si Burung Surga ini ternyata sudah diambang kepunahan. Sebab di setiap 1 kilometer persegi, kita hanya bisa menemukan 2-3 ekor cendrawasih.

Kelangkaan burung Cendrawasih ini disebabkan karena kerusakan habitat. Habitat asli burung ini hilang karena perluasan kabupaten baru di Papua, pembangunan jalan, pembangunan perkantoran, pemukiman penduduk, dan pembalakan hutan yang menyebabkan sarang burung Cendrawasih bersama telurnya hancur.

Bukan hanya itu, ancaman berupa perburuan dan perdagangan secara besar-besaran dan ilegal juga masih terjadi. Burung cantik ini ditangkap untuk diawetkan dan dijadikan pajangan serta diperjualbelikan dengan harga yang mahal.

Beberapa jenis Cendrawasih yang cukup populer diantaranya adalah:

Cendrawasih Botak

Cendrawasih Botak atau Cicinnurus respublica merupakan burung berkicau yang ukurannya kecil, panjangnya sekitar 21 cm. Burung jantan punya bulu berwarna merah dan hitam, tengkuknya kuning serta mulut hijau terang. Kulit kepala burung ini berwarna biru muda, mungkin itu yang menyebabkan namanya Cendrawasih Botak.

Burung cantik ini hanya ditemukan di dataran rendah. Tepatnya di pulau Waigeo dan Batanta, Raja Ampat, Papua Barat. Makanan burung Cendrawasih Botak berupa buah-buahan dan serangga kecil.

Cendrawasih Kerah

Cendrawasih Kerah mempunyai nama ilmiah Lophorina superba. Burung jantang berwarna hitam dengan mahkota berwarna hijau pelangi. Mempunyai bulu yang menutupi dadanya berwarna biru hijau. Sedangkan yang betina warnanya coklat kemerahan dan bulu bagian bawahnya bergaris coklat.

Burung Cendrawasih Kerah tersebar di seluruh hutan hujan yang berada di pulau Irian. Burung jantan berusaha menarik perhatian pasangannya dengan menari dan bernyanyi.

Cendrawasih Kuning-besar

Nama ilmiah dari Cendrawasih Kuning-besar adalah Paradisaea apoda. Burung ini memiliki ukuran yang besar, panjangnya sekitar 43 cm. Memiliki warna coklat marun dengan kepala perpaduan antara kuning dan hijau.

Cendrawasih jenis ini tersebar di hutan dataran rendah dan bukit, yang terletak di barat daya pulau Irian dan pulau Aru. Makanannya adalah buah-buahan, biji-bijian dan serangga kecil. Burung ini juga dijuluki sebagai burung surga, Bird of Paradise.

Cenderawasih Mati-kawat

Cenderawasih Mati-kawat nama ilmiahnya adalah Seleucidis melanoleucus. Panjangnya sekitar 33cm dan berasal dari genus Seleucidis. Burung jantan mempunyai bulu berwarna hitam mengkilap, pada bagian perutnya dihiasi bulu kuning. Di bagian perut juga terdapat dua belas kawat berwarna hitam.

Burung ini mempunyai paruh yang panjang dan lancip berwarna hitam. Burung betina berwarna coklat dan ukurannya lebih kecil daripada burung jantan. Di tubuhnya tidak terdapat bulu berwarna kuning atau dua belas kawat di sisi perutnya.

Cenderawasih Mati-kawat ditemukan di hutan dataran rendah di pulau Irian. Makanan burung hitam ini adalah buah-buahan dan serangga.

Cendrawasih Merah

Cendrawasih Merah memiliki nama ilmiah Paradisaea rubra. Panjangnya sekitar 33cm, berwarna kuning dan coklat, serta berparuh kuning. Burung jantan ukurannya sekitar 72 cm, bulu yang menghiasi tubuhnya berwarna merah darah dengan ujung putih pada bagian perutnya.

Bulu yang berada di kepala berwarna hijau zamrud gelap, pada bagian ekor terdapat dua buah tali yang panjang berbentuk pilin ganda berwarna hitam. Burung betina ukurannya lebih kecil dari burung jantan, dengan kepala berwarna coklat tua.

Cendrawasih Merah hanya ditemukan di hutan dataran rendah pada pulau Waigeo dan Batanta, Raja Ampat, Irian Jaya Barat.

Cendrawasih Panji

Nama ilmiah dari Cendrawasih Panji adalah Pteridophora alberti. Panjangnya sekitar 22 cm, berasal dari genus Pteridophora. Burung jantan mempunyai bulu berwarna hitam dan kuning tua. Pada bagian kepala terdapat dua helai bulu kawat bersisik biru-langit mengkilap.

Panjang dari dua bulu di kepala tersebut dapat mencapai 40 cm dan dapat ditegakkan untuk memikat betina. Bulu yang berada di punggung berbentuk tudung berwarna hitam. Burung betina berwarna abu-abu kecoklatan dengan garis dan bintik gelap. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan dan tanpa ada bulu kawat di kepalanya.

Daerah sebaran Cendrawasih Panji berada di hutan pegunungan pulau Irian. Makanan burung cantik ini adalah buah-buahan, berbagai macam beri dan serangga.

Cendrawasih Goldi

Cendrawasih Goldi memiliki nama ilmiah Paradisaea decora. Panjangnya sekitar 33 cm dan berwarna coklat zaitun. Burung jantan, iris matanya berwarna kuning, sedangkan paruh, mulut serta kakinya memiliki warna abu-abu. Badan burung cantik ini mempunyai bulu hias di pinggangnya yang berwarna merah tua. Burung betina tidak memiliki bulu hias, warna bulunya cokelat zaitun dan cokelat jingga.

Cenderawasih Goldi merupakan burung endemik Papua Nugini, tersebar di pulau Fergusson dan Normanby. Makanan utama burung ini adalah buah-buahan.

Beberapa spot untuk melihat burung Cendrawasih dapat ditemukan di:

Pulau Bantata.
Di pulau ini, kamu tidak hanya melihat burung cendrawasih, namun kamu juga dapat melihat burung-burung lainnya yang tak kalah eksotis dan pastinya hanya ada di Papua. Pulau Bantata terletak sekitar 4 jam naik perahu motor dari kota Sorong, Papua.

2. Pulau Waigeo.
Jika ingin melihat pemandangan serta burung Cendrawasih yang lebih indah, pembaca dapat mengunjungi pulau ini dengan menggunakan perahu motor selama 5-6 jam. Lumayan jauh, ya!

Cara lainnya adalah pembaca dapat menaiki kapal feri dari dermaga kota Sorong, Papua. Setibanya, kamu dapat melihat kecantikan 4 spesies burung cendrawasih. Pembaca juga tidak perlu khawatir untuk bermalam, karena diperbolehkan untuk membangun tenda sendiri, atau menyewa pondok.

3. Desa Sawinggrai, Raja Ampat.
Untuk mencapai desa ini, Pembaca bisa berangkat dari Waisai, ibukota Raja Ampat sekitar 2 – 4 jam dengan naik kapal motor. Sesampainya di sana, bersiaplah untuk menari! Sebab, kamu akan disambut oleh warga setempat dengan tarian Makakero, yaitu tarian selamat datang untuk para tamu.

Trailer 39 Jenis Burung Cendrawasih (4:16)

https://youtu.be/9Ynm0_g0MUM

 

Sumber : indovoices.com