Skip to main content

Kura-kura moncong babi – Foto/Brilio

Klikhijau.com – Kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) adalah jenis satwa dilindungi yang keberadaannya semakin terancam akibat perdagangan illegal.

Pekan ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta melakukan evakuasi tiga satwa dilindungi korban banjir besar yang terjadi 2 (dua) tahun lalu. Diantaranya 1 ekor Kura-kura Kaki Gajah (Monouria emys), 1 ekor Kura-kura Moncong Babi (Carettochelys insculpta) dan 1 Ekor dan Kura-kura Gading (Orlitia borneensis).

Serah terima satwa-satwa tersebut dilakukan oleh petugas BKSDA Jakarta pada hari Senin, 4 Mei 2020 dengan menerapkan protokol kesehatan Pandemi COVID-19. Ketiganya merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.

Kura-kura jenis ini juga masuk daftar Merah IUCN sebagai spesies Vulnerable (Rentan). CITES pun mendaftarnya dalam daftar Appendix II yang artinya hanya boleh diperdagangkan secara internasional dengan pengawasan khusus dan ketat.

Kura-kura moncong babi termasuk yang paling otentik dan menarik dibahas karena kekhasan pada moncongnya yang menyerupai babi.

Mengenal Kura-kura moncong babi

Sahabat Hijau, kali ini kita akan membahas tentang kura-kura moncong babi atau biasa dinamai “labi-labi moncong babi”. Oya, jenis satu ini merupakan salah satu reptil asli Indonesia.

Nama latin reptil ini adalah Carettochelys insculpta Ramsay, 1886 dan mempunyai nama sinonim, yaitu Carettochelys canni Artner (2003) dan Carettochelys insculpta Wells (2002). Dalam bahasa Inggris, disebut sebagai Pig-nosed Turtle, Fly River Turtle, New Guinea Plateless Turtle, Pig-nose Turtle, atau Pitted-shell Turtle.

Carettochelys insculpta dapat ditemukan di perairan Papua Indonesia, Papua Nugini dan Australia.

Satwa akuatik ini dapat hidup di air tawar dan payau. Biasa mencari makan makan di dasar kolam, pinggiran sungai, danau, dan muara. Kura-kura ini omnivora alias memakan tanaman, buah, invertebrata dan ikan.

Ciri khas satwa ini adalah bagian moncong yang lebih panjang serta hidung yang menyerupai hidung babi, dari morfologi inilah asal mula ia dinamai si mocong babi.

Tidak seperti kura-kura air tawar lainnya, kura-kura ini memiliki sirip pada bagian kaki, lebih menyerupai kura-kura laut daripada spesies air tawar. Dengan kakinya itulah, ia memiliki daya jelajah yang luas di darat. Sedangkan, siripnya membuatnya lincahh berenang seperti dayung.

Kura-kura ini memiliki permukaan cangkang yang kasar dan tidak memiliki sisik bertulang seperti jenis kura-kura lain, Plastron berwarna krem, sedangkan karapas dapat bervariasi antara berbagai warna coklat hingga abu-abu gelap.

Ukuran kura-kura dewasa tergantung pada habitatnya, dengan individu di dekat pantai jauh lebih besar daripada kura-kura di dekat sungai.

Uniknya, Kura-kura moncong babi betina memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan kura-kura jantan. Ekor lebih panjang dan lebih tebal dijumpai pada Kura-kura jantan. Bila sudah dewasa, jenis ini dapat berkembang hingga setengah meter, dengan berat rata-rata 22,5 kg dan panjang cangkang rata-rata 46 cm.

Daerah Sebaran

Sebagai satwa asli Indonesia, persebaran Carettochelys insculpta ini hanya di Papua bagian selatan mulai dari Timika, Asmat, Mappi, Boven Digul, Yahukimo, hingga sebagian kecil wilayah Merauke. Selain itu dijumpai juga di sebagian Papua Nugini bagian selatan dan Australia bagian utara.

Satwa ini dianggap langka meskipun jumlah populasi pastinya tidak diketahui, diperkirakan mengalami penurunan yang drastis. Ancaman terhadap utama terhadap kelestarian reptil ini adalah perburuan liar untuk diperdagangkan baik sebagai hewan peliharaan ataupun dikonsumsi daging dan telurnya.

Jenis bulus ini merupakan salah satu kura-kura yang paling banyak dieksploitasi dan diselundupkan ke luar negeri. Selain itu juga terancaman akibat dari kerusakan habitat.

Kura-kura ini berkembang biak selama musim kemarau pada saat musim bertelur antara bulan Agustus-Oktober setiap tahunnya.

Saat selesai melewati masa kawin dan memasuki masa bertelur, umumnya kura-kura betina akan keluar dari air untuk menyimpan telurnya di pangkal air.

Jenis kelamin kura-kura moncong babi sangat dipengaruhi suhu sekitarnya, tukik jantan diproduksi ketika suhu menurun setengah derajat dan tukik betina diproduksi ketika suhu meningkat setengah derajat.

.

Sumber: www.klikhijau.com

Papua Conservation

Asiki, Jair,
Boven Digoel Regency,
Papua 99661

 

T: 021-396-7102
E: mail@papuaconservation.com